Ku Pinang Kau Dengan Bismillah

Laki-laki sepertiku di muka bumi ini jarang, sangat jarang. Jumlahnya bisa di hitung dengan jari. Percayalah, banyak laki-laki diluar sana tapi laki-laki sepertiku sangat jarang. Jika kau bertanya padaku kenapa, akan kujelaskan kepadamu.

Aku memiliki rasa cinta dan malu. Antara engkau dan aku dibatasi oleh rasa malu dan cinta. Aku mencintai Rabbku melebihi dari segalanya. Dibawahnya ada Muhammad bin Abdullah, Rosulullah panutan kita. Kau pasti tau setelah mencintai Rosul bukan dirimu yang kupilih tapi aku mencintai umi dan abiku. Mencintai seseorang yang telah mendidikku dengan penuh sabar dan kasih sayang. Apakah setelah abi dan umi adalah engkau? Bukan. Aku lebih mencintai para sahabat-sahabat Rosul dan ulama-ulama yang mengajarkan islam hingga sampai ke dadaku. Mereka senantiasa menasihatiku menentramkan jiwaku. Dibawahnya aku mencintai saudara-saudariku yang seiman. Mereka yang telah mendoakanku dalam untaian penuh hikmat. Yang senantiasa menasihatiku dalam kebaikan. Barulah terakhir aku mencintaimu.

Dari sekian orang yang sangat ku cintai engkaulah terakhir. Tapi jangan khawatirkan itu. jangan risaukan itu. aku masih menyisakan cintaku untukmu. Walaupun tak banyak percayalah cintaku padamu utuh. Utuh tak tersentuh, karena aku belum pernah menyentuhmu satu centipun. Jangankan menyentuh, bertemu saja mungkin belum pernah. Percayalah aku tak berbagi hati pada yang lain. Yakinlah aku masih sempatkan doakau untuk menyapa namamu. Mudah-mudahan engkau menjadi makmum yang sholehah.
Cinta kita dibatasi oleh rasa malu. Malu jika aku mencintaimu melebihi cintaku pada Rabbku. Bahkan Rosul di akhir nafasnya, dipenghujung hidupnya, apa yang ia ingat? Umatku, umatku, dan umatku. Maka malulah aku jika aku mencintaimu dengan derajat tertinggi. Mengalahkan Rabbku dan Rosulku atau mengalahkan orang-orang diatasmu yang harusnya aku cintai lebih. Maka malulah aku jika ku habiskan waktuku hanya untuk mengingatmu. Hanya untuk memujamu? Bukankah Rabbku telah bersumpah, Ia bersumpah demi waktu.

“Demi masa, Sesungguhnya manusia dalam keadaan kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebaikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”

Pasti kau tau itu perkataan siapa? Ya itu perkataan Allah dalam kitabnya. Aku tak mau habiskan waktuku hanya untuk mengingat namamu. Menyanjung namamu dalam khayalanku. Tidak! Aku tak mau menjadi orang yang merugi. Aku malu, sungguh malu. Aku malu jika aku melakukan itu. Tapi dengan rasa malu itulah yang membuat cintaku padamu begitu sempurna. Sesempurna dalam pandangan-Nya.

Aku bukanlah laki-laki pada umumnya. Aku tak habiskan waktuku berjam-jam di mall. Aku tak habiskan waktuku untuk begadang hanya untuk menikmati malam. Aku tak habiskan keringatku hanya untuk menggoda wanita-wanita cantik di jalan. Aku tak sia-siakan tubuhku untuk merokok dan menenggak minuman keras. Tak kulakukan itu semua, sedikitpun!

Aku habiskan waktuku di ladang dakwah. Berpindah-pindah dari satu masjid ke masjid yang lain. Menimba ilmu dari satu majelis ke majelis lainya. Aku habiskan malamku untuk melekatkan keningku pada-Nya. menghamparkan sajadah menebar proposal kebaikan dalam doa kepada-Nya. Aku sempatkan pagiku untuk berdhuha. Dan aku tak pernah meninggalkan kitab-Nya, menghabisakn maghrib dan Shubuhku untuk mengajinya.

Aku memang bukan seorang dokter seperti Ibnu Sina yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit. Aku juga bukan seorang pengusaha seperti Abdurahman bin Auf yang kekayaanya teramat banyak. Yang sekali duduk dengan Rosulullah ia berinfak 60 Milyar! Aku juga bukan seorang Utsman bin Affan yang hatinya begitu lembut, bahkan kelembutan hatinya sampai membuat malaikatpun malu denganya. Aku juga bukan seorang pemberani seperti Umar Bin Khattab. Yang jika ia lewat maka setan menghindar bertemu denganya. Atau, seperti seoarang Amr bin Ash seorang panglima termuda yang diumur 19 tahun telah mimimpin pasukan bahkan diumur 17 tahun ia telah menyempurnakan setengah imanya ,menjemput jodohnya.

Aku hanyalah seorang penulis. Menulis apa yang harus aku tulis. Membagikan apa yang bisa kubagikan. Tapi percayalah dalam benaku dalam dadaku telah tertanam hidupku untuk-Nya. Akan ku baktikan seluruh waktuku dan penaku untuk dakwah ini. Akan ku baktikan segala kemampuanku untuk berbuat baik kepada banyak orang. Aku ingin menjadi bagian orang yang terbaik. “khoirunnas anfafuhun linnas” sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat.

Maka jika suatu saat ayahmu menanyakan diriku. Cukuplah engkau berkata ”Ia adalah laki-laki yang sangat jarang engkau temui di muka bumi ini.”

Iklan

Imamku, Dimana Letak Kesholehahanku?

Teruntuk seseorang yang telah tertulis dalam ketentuan-Nya, calon imamku, ayah dari anak-anakku, Dengarkanlah untaian kata dari goresan penaku ini. Dengarkanlah seruan hatiku ini;

Maafkan aku ya tulang rusukku, saat ini aku belum sesholehah yang kau bayangkan. Saat ini jiwaku masih terlalu hitam. Jiwaku masih berlumpur dosa. Aku belum bisa menjadi seorang wanita sholehah yang kau bayangkan. Lisan ini masih terlalu kotor ya kasihku. Lisan ini teramat sering membicarakaan kesalahan Si fulan. Masih sering menjatuhkan Si fulan. Masih suka ghibah ya kasihku. Maka dimana letak kesholehahanku?

Akupun tak seperti yang kau bayangkan. Shalatku kadang masih suka telat. Shalatku teramat sering tak khussyu. Shalat malamku pun bolong-bolong. Shalat dhuha-ku hanya sesempatku saja, seingatku saja. Maka dimana letak kesholehahanku?

Mengajiku tak seindah yang kau bayangkan. Jangankan tartil, Makhrajku saja masih jauh dari sempurna. Bahkan bacaan tajwidkupun masih terbolik-balik. Aku pun tak tau bacaan sujud syahwi. Lagi-lagi aku bertanya padamu, maka dimana letak kesholehahanku?

Hafalan Al-Quranku pun masih terpaksa. Terpaksa karena tiap pekan bertemu dengan ustadz-ustadzku. Aku malu jika aku tak menyetor hafalanku. Aku malu pada teman-temanku. Maka dimana letak kesholehah-anku?

Bahkan mata ini masih terlalu amat banyak berzina. Mata ini masih suka menonton yang bukan menjadi haknya. Mata ini lebih banyak menonton TV dibanding mengaji Al-Quran. Dibanding membaca kumpulan doa Al-Ma’surat, apalagi membaca kumpulan Hadist-hadist yang tebal itu? Maka dimana letak kesholehehanku?

Hatiku tak selembut Fatimah, tak secerdas Aisyah. Aku masih suka berkata menyakitkan kepada saudari-saudariku. Bahkan sehari ini pun aku belum menyapa ibuku, aku belum menyapanya dalam doa. Dimana letak baktiku? Sekali lagi aku bertanya padamu, maka dimana letak kesholehahanku?

Hai laki-laki sholeh yang telah tertulis di lauhul mahfudz, imamku, dan ayah dari anak-anaku, engkau yg setia dan sabar terhadap kami kelak, Masihkah kau ingin memilihku menjadi istrimu? Masihkah kau ingin melanjutkan kehidupanmu denganku? Hai laki-laki sholeh, bahkan membayangkan menjadi sahabatmu saja aku tak berani. Aku sungguh malu membayangkan itu. Apalagi membayangkan aku menjadi istrimu?

Jika kelak kau menjadi suamiku, imam bagi keluargaku, maka ajarkanlah aku semua itu. Ajarkanlah aku menjaga lisanku. Ajarkanlah aku menjaga pandanganku. Ajarkanlah aku shalat khusyu. Ajarkanlah aku mengaji yang benar. Ajarkanlah aku hati yang lembut. Ajarkanlah aku berbakti padamu ya calon ayah dari buah hatiku. ajarkan semuanya padaku.

Aku yakin saat ini kau sedang mempersiapkanya semua. Memantaskan diri menjadi imam bagiku dan buah hatimu kelak. Aku yakin saat ini kau sedang beribadah dengan khusysu. Saat ini kau sedang menjaga pandanganmu. Saat ini kau sedang menjaga lisanmu. Saat ini kau sedang mencintai saudara-saudaramu.

Seandainya yang tertuliskan olehku adalah kebenaran tentangku menurutmu, duhai, alangkah menghibanya aku. Seandainya yang tercatatkan olehku adalah ukuran penilaian mu, duhai, alangkah merananya aku ya kasihku.

Sungguh, aku percaya dengan firman-Nya;

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk permpuan-perempuan yang keji pula, sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula..” (QS. An-Nur:26)

Doakan aku ya kasihku agar aku tetap Istiqomah memperbaiki diri. Doakan aku agar aku memang pantas bersanding di pundakmu. Bersanding berdua bersamamu menikmati secangkir kopi di pagi hari. Bersanding berdua denganmu dalam selimut malam; bersanding denganmu untuk mendapat Surga-Nya.

Aamiin Ya Rabb