Kado Untuk Yang Tercinta

Pernikahan Mbak Aisy dan Mas Yayan

Saat cinta yang kita cita-citakan terwujud, alangkah indahnya. Disambut dengan lengkungan senyuman dari sang kekasih yang dicinta. Merekah dari bibir ikhlas tak tergantikan. Menyambut dan disambut kata-kata cinta yang terucap. Merinding dan bergetarlah jiwa. Darahpun mengalir cepat membasahi setiap jiwa yang kering. Jiwa-jiwa yang merindukan kasih sayang dari sang kasih.

Ada yang cemburu. Melihat dua insan bersatu dalam satu akad. satu untuk selamanya. Perjanjian antara imam dan makmum yang akan menakodahi samudera kehidupan. Kehidupan yang tentunya banyak gelombang dan karang yang menghadang. Namun disinilah kita bisa Mencicipi nikmat berdua yang tak pernah dirasakan. Ah cinta alangkah indahnya.

Kau tau saat akad terucap. Malaikat itu tersenyum lebar. Menjadi saksi bukti cinta kalian karena Rabb-nya. tapi kau juga harus tau saat akad terucap bidadari dunia itu lemas tak bisa berbuat apa-apa. Mereka cemburu! Ya cemburu. Cemburu karena bukan dirinya yang terpilih menjadi makmum Sang Pangeran. Begitu pula para pengeran berkuda putih, mereka letih sejenak setelah tau wanita yang sholehah itu telah dimiliki oleh Sang Pangeran dari sebuah Negara Teknik. Itulah cinta. Kau berani atau mempersilahkan yang lain.

Sekarang kau tau. Ternyata kau adalah manusia pilihan yang mendapatkan kekasih yang terbaik. Maka bersyukurlah atas segala karunia ini. maka cintailah kekasihmu hingga ajal menjemput. Seperti penjagaan seorang Muhammad bin Abdullah kepada kekasihnya Khadijah. Hanya ajal yang memisahkan mereka. hanya kematian yang memisahkan raga mereka.

Tapi tenanglah kami adalah para pangeran dan cinderela yang berbahagia atas akad kalian. Barakallaufikum untuk mbak kami yang tersayang Syaja’atul ‘Aisyah, S.Hum dan Mas Yayan Satyawardana, ST. Mudah-mudahan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah. Aamiin.

Dari Kami yang mencintai kalian^_^

Keluarga Besar Tarbiyah Fakultas Ilmu Budaya UNDIP

Iklan

Ikatlah Ilmu Dengan Menulis

Ada salah satu Pernyataan yang senantiasa menjadi dalil untuk memotivasi menulis. Yaitu pernyataan menarik yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Meskipun perlu juga penelusuran lebih teliti penisbatannya, yaitu kepada suami dari Fatimah binti Muhammad itu, tetapi, apapun itu menurut hemat penulis, menulis merupakan upaya atau ikhtiar kita dalam menyimpan memori-memori yang terdapat dalam hidup kita. Menyimpan apa-apa yang kita alami dan kita yakini. Mari kita analogikan dengan hal-hal yang ada dalam kehidupan ini. Pertama, untuk mengikat antara wanita dan pria maka ada yang namanya pernikahan. Mereka terikat agar senantiasa hidup berdua dengan penuh tanggung jawab. Coba bayangkan ketika tidak ada ikatan yang namanya pernikahan? Sepertinya kita tidak akan belajar dengan kata “setia”. Kedua, dalam dunia kerja atau pendidikan misalnya banyak hal yang kita lakukan yang sifatnya mengikat, misalnya melalui peraturan-peraturan yang ada. Nah, karena adanya peraturan yang mengikat itu maka kita akan lebih berhati-hati dan ataupun bersungguh-sungguh. Seandainya tidak ada peraturan yang mengikat tentu kita akan seenaknya saja dalam bekerja ataupun belajar. Jika dikaitkan dengan menulis maka sesungguhnya menulis sebagai sarana mengikat keyakinan-keyakinan atas apa yang kita tulis. Jika kita menulis tentang ikhlas, maka kita berusaha senantiasa menjaga keikhlasan kita seperti apa yang kita tulis. Banyak mahasiswa atau lulusan pondok yang sebenarnya ahli berbahasa arab atau bahasa inggris tetapi karena tidak pernah dipraktekan maka dalam jangka waktu yang lama hampir semua kosakata itu akan hilang dari memori otak, Fakta! Menulis juga sebagai pengingat kita, artinya sebelum menulis maka lakukanlah terlebih dahulu sebelum menasehati .pada akhirnya kita akan menjadi pribadi-pribadi yang teladan. Seperti firman Allah dalam surat As-Saff;

“Sesungguhnya Allah Membenci hamba-Nya yang mengatakan apa-apa yang tidak ia katakan” (QS. As-Saff:3)

Dari surat di atas jelas sekali bahwa Allah mengingatkan pada hamba-Nya untuk senantiasa melakukan terlebih dahulu sebelum menasehati orang lain. Itulah beberapa manfaat menulis korelasinya dengan ilmu yang kita miliki. Selama tangan kita masih bisa menggoreskan pena maka jangan biarkan ilmu kita hilang begitu saja termakan usia kita yang setiap hari semaikn bertambah. Mari menulis!