Ikatlah Ilmu Dengan Menulis

Ada salah satu Pernyataan yang senantiasa menjadi dalil untuk memotivasi menulis. Yaitu pernyataan menarik yang dinisbatkan kepada Ali bin Abi Thalib, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”. Meskipun perlu juga penelusuran lebih teliti penisbatannya, yaitu kepada suami dari Fatimah binti Muhammad itu, tetapi, apapun itu menurut hemat penulis, menulis merupakan upaya atau ikhtiar kita dalam menyimpan memori-memori yang terdapat dalam hidup kita. Menyimpan apa-apa yang kita alami dan kita yakini. Mari kita analogikan dengan hal-hal yang ada dalam kehidupan ini. Pertama, untuk mengikat antara wanita dan pria maka ada yang namanya pernikahan. Mereka terikat agar senantiasa hidup berdua dengan penuh tanggung jawab. Coba bayangkan ketika tidak ada ikatan yang namanya pernikahan? Sepertinya kita tidak akan belajar dengan kata “setia”. Kedua, dalam dunia kerja atau pendidikan misalnya banyak hal yang kita lakukan yang sifatnya mengikat, misalnya melalui peraturan-peraturan yang ada. Nah, karena adanya peraturan yang mengikat itu maka kita akan lebih berhati-hati dan ataupun bersungguh-sungguh. Seandainya tidak ada peraturan yang mengikat tentu kita akan seenaknya saja dalam bekerja ataupun belajar. Jika dikaitkan dengan menulis maka sesungguhnya menulis sebagai sarana mengikat keyakinan-keyakinan atas apa yang kita tulis. Jika kita menulis tentang ikhlas, maka kita berusaha senantiasa menjaga keikhlasan kita seperti apa yang kita tulis. Banyak mahasiswa atau lulusan pondok yang sebenarnya ahli berbahasa arab atau bahasa inggris tetapi karena tidak pernah dipraktekan maka dalam jangka waktu yang lama hampir semua kosakata itu akan hilang dari memori otak, Fakta! Menulis juga sebagai pengingat kita, artinya sebelum menulis maka lakukanlah terlebih dahulu sebelum menasehati .pada akhirnya kita akan menjadi pribadi-pribadi yang teladan. Seperti firman Allah dalam surat As-Saff;

“Sesungguhnya Allah Membenci hamba-Nya yang mengatakan apa-apa yang tidak ia katakan” (QS. As-Saff:3)

Dari surat di atas jelas sekali bahwa Allah mengingatkan pada hamba-Nya untuk senantiasa melakukan terlebih dahulu sebelum menasehati orang lain. Itulah beberapa manfaat menulis korelasinya dengan ilmu yang kita miliki. Selama tangan kita masih bisa menggoreskan pena maka jangan biarkan ilmu kita hilang begitu saja termakan usia kita yang setiap hari semaikn bertambah. Mari menulis!

Menulislah maka kita akan hidup abadi

Seorang Tokoh Perang Dunia I, Kaisar Francis, Napoleon Bonaparte, ia berkata :
”Saya lebih takut kepada seorang penulis dengan pena yang ia miliki, ketimbang 1000 prajurit tangguh dan terlatih lengkap dengan bayonet yang terhunus”
Menulis merupakan bagian dari pembangunan peradabaan. peradabaan manusia tidak terlepas dari akivitas manusia yang gemar membaca. Negara negara maju seperti Amerika, Jepang, dan Prancis memiliki habit membaca yang sanat bagus. coba bandingkan denagan masyarakat Indonesia yang hanya membaca 2 paragraf tiap tahunya (UN:2005). miris sekali ketika masyarakat yang notabene muslim sangat rendah dalam aktivitas membaca. padahal dalam kitab suci Al-Quran telah jelas perintah Allah yang pertama adalah membaca.
“Bacalah atas nama Tuhanmu” (QS. Al-Alaq:1)
Jika aktivitas membaca sedikit apalagi aktivitas menulis? tentu akan lebih sedikit bukan? ayo mari kita bersama-sama membangun peradaban Indonesia dan dunia menjadi lebih baik dengan membaca dan menulis. dengan membaca kita mengetahui dunia dan dengan menulis kita merancang dunia. Mari MENULIS!