Cinta adalah Keberanian atau Mempersilahkan

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan (Salim A Fillah).

Sederet tulisan cinta yang ditulis oleh Salim A Fillah, hanya inilah yang masih saya ingat betul. Dalam bagian ini beliau menjelaskan tentang cinta dalam perspektif keberanian atau mempersilahkan orang lain. Cinta tidak pernah meminta untuk menanti apalagi memaksa. Begitulah sekiranya yang diceritakan dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang. Cerita bagaimana para sahabat terbaik Rasulullah satu persatu melamar putrinya yang jelita, Fatimah. Namun pada akhirnya Ali Bin Abi Thalib yang terpilih sebagai menantunya; sebagai imam bagi putrinya.

 Dalam bagian ini, kita bisa mengambil beberapa hikmah yaitu:

 1. Cinta adalah suatu keberanian

Cinta dan pemberani sangatlah dekat. Ibarat seorang ksatria dalam medan perang yang menggunakan sebilah pedang. Pedang adalah symbol keberanian seorang kesatria. Kau tunjukan keberaniaan melawan musuh. Kau acungkan pedang untuk menebas musuh. Maka engkaupun bisa memenangkanya atau akan mati syahid dalam jalan Illahi. Engkau masuk syurga firdaus; sebaik-baiknya syurga. Itulah cinta, kau harus berani untuk mendapkanya. Jikaupun kau gagal mendapatkanya niscaya ada pengganti yang lebih indah dari yang kau cinta. Ada sesuatu yang lebih baik dari yang kau inginkan yang telah Allah persiapkan untukmu. Begitulah cinta jika kau tak menjadi seorang pemberani maka jangan harap kau akan mendapatkan cintamu. Jangan habiskan waktumu hanya menjadi pengagum cinta tanpa suatu keberaniaan karena engkau sebenarnya hanya berkhayal. Keberaniaan cinta bukan hanya pada lelaki tetapi wanita juga. Tentu keberaniaan Khadijah meminta Muhammad Bin Abdullah menjadi suaminya adalah teladan bagi kita. Bahwa wanita juga boleh memberanikan diri. Dan sebagai seorang laki-laki tentu kita tidak boleh memandang sipit seakan tak pantas dilakukan oleh seorang wanita. Tidak.

 2. Cinta adalah Mempersilahkan bukan memaksakan

Cinta adalah mempersilahkan bukan memaksakan.  Setelah Abu Bakar mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islam membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. Dan pada akhirnya lamaran terakhir Ali lah yang disambut dengan Ahlan Wa Sahlan; Selamat datang! Dari cerita di atas kita bisa mengambil hikmah dari sahabat-sahabat Rasul yang begitu berani tetapi mereka juga begitu ikhlas melakukanya. Maka ketika niat baik mereka; lamaran mereka tertolak. Mereka mempersilahkan yang lainya untuk menjemputnya. Tak ada yang memaksakan perasaanya terhadap orang yang dicintainya. Bisa jadi itu (memaksakan) bukanlah sebuah cinta tetapi nafsu dalam diri. Maka jika kita mencintai maka beranikan diri menjemputnya akan tetapi ketika tertolak itu artinya mempersilahkan yang lainya. Itulah Cinta kau berani atau mempersilahkan yang lainya.

3. Cinta adalah sebuah keyakinan

Cinta adalah sebuah keyakinan. Dalam kegamangan hati kau tetap yakin. Dalam kebimbangan hati kau tetap yakin. Pun dalam kesakaun kau tetap yakin. Karena cinta bukan sekedar keberaniaan tetapi ia adalah keyakinan. Ia berani karena yakin. Seperti Fatimah yang sangat yakin orang yang ia cintai akan datang menjemputnya. Padahal dua sahabat Rosul terbaik telah memberanikan diri untuk menjemputnya, berlomba-lomba mendapatkan akad itu. Namun lihatlah seorang Fatimah dia yakin orang yang ia cintai dalam diam akan datang menjemputnya. Hingga setelah menikah ia berkata pada suaminya yang tercinta:

 “hai kekasihku tahukah kau? Sebelum ku menikah, ada seorang pemuda yang aku cintai” ucap Fatimah kepada suaminya; Ali Bin Abi Thalib. Yang ditanyapun penasaran dan penuh tanda Tanya.

 “Siapakah lelaki itu ya Fatimah” jawab Ali penuh tanda Tanya

 “laki-laki itu adalah kau” jawab Fatimah dengan penuh cinta.

 Begitulah Cinta ia memiliki nilai keyakinan. nilai keyakinan ini tentu juga beraslal dari suatu kecenderungan perasaan yang dimiliki oleh seseorang melalui istikharoh cinta kepada-Nya. Tentu kita ingat salah satu hadist berikut ini

 “APABILA datang laki-laki (untuk meminang) yang kamu ridhoi agamanya dan akhlaknya maka nikahkanlah dia, dan bila tidak kamu lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

 Tetapi apa yang terjadi dengan Fatimah dengan sahabat-sahabat Rosul yang telah melamarnya? Semua laki-laki yang melamar Fatimah adalah orang-orang pilihan terbaik saat itu. Sahabat-sahabat yang tak diragukan lagi agama dan akhlaknya. Maka seorang akhwat atau wanita boleh-boleh saja menolak laki-laki yang datang melamarnya walaupun agamanya baik. Tentu Cinta tetaplah cinta. Di dalamnya ada perasaan kecenderungan hati. Di dalamnya ada kekaguman hati. Maka jika Fatimah lebih mencenderungkan hatinya kepada Ali. Itulah cinta; tak ada rumus yang pasti. Maka jika kita seorang laki-laki tertolak lamaranya, janganlah berkecil hati dan jangan pula mencaci wanita yang telah menolak kita karena kita merasa telah baik agamanya. Karena kita merasa  telah memiliki segalanya.

  4. Cinta adalah keikhlsanan

 Seringkali seorang yang cintanya tertolak mudah sekali untuk kecewa. Ia kecewa karena segala ikhtiar dan doanya selama ini tidak terjawab oleh Allah. Bahwa apa yang ia inginkan benar-benar tak terwujud. Janganlah tergesa-gesa kecewa karena pilihan Allah pasti yang terbaik.

 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqoroh; 216)

 Sesungguhnya Allah lebih mengetahui yang terbaik untuk diri kita. Hingga kekasih sebagai pasangan hidup pun Allah yang lebih mengetahui. Kadang teramat banyak pemuda yang terlalu yakin kemudian dia kecewa karena yang ia yakini ternyata tak seperti yang diharapkan. Maka sesungguhnya hanya keikhlasan sebagai jalan untuk menenangkan jiwa dari segala liku-liku cinta di dunia.

 Ada satu doa sebagi penguat keikhlasan kita dalam mencintai seseorang dengan penuh keihkhlasan. Doa yang diucapkan Rosulullah kepada Rabb-Nya. Sebuah doa yang patut kita teladani;

 “Ya Allah, berilah aku rezeki cinta Mu dan cinta orang yang bermanfaat buat ku cintanya di sisi Mu. Ya Allah segala yang Engkau rezekikan untukku di antara yang aku cintai, jadikanlah itu sebagai kekuatanku untuk mendapatkan yang Engkau cintai. Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan di antara sesuatu yang aku cintai, jadikan itu kebebasan untuku dalam segala hal yang Engkau cintai.” (HR. Al-Tirmidi)

 Dalam doa tersebut mengisyaratkan manakala kita mencintai sesuatu maka jadikan itu sebagai kekuatan agar bisa mendapatakan apa yang Allah cintai dan jika Allah menyingkirkan apa yang kita cintai maka jadikan itu sebagai kebebasan untuk senantiasa mencintai apa yang Allah cintai.

 Bukan karena mencintaimu aku menjadi merana. Bukan pula karena mengagumimu aku menjadi menderita. Tetapi saat ku artikan cinta adalah kebersamaan denganmu, itulah penderitaan cinta yang sesungguhnya. karena cinta adalah keberaniaan atau mempersilahkan. Ia bukanlah rangkaian kata kerja pemaksaan. Yaitu Pemaksaan kebersamaan denganmu.

Barakallahufiikum, semoga bermanfaat ^_^

Mau Dong Saya Taaruf Sama Kamu

Apa perbedaan antara Ta’aruf dan pacaran? Mau tau apa perbedaannya? Lanjutkan bacanya;

Tujuan :

– taaruf (t) : mengenal calon istri/suami, dengan harapan ketika ada kecocokan antara kedua belah pihak berlanjut dengan pernikahan.

– pacaran (p) : mengenal calon pacar, dengan harapan ketika ada kecocokan antara kedua belah pihak berlanjut dengan pacaran, syukur-syukur bisa nikah …

Kapan dimulai

– t : saat calon suami dan calon istri sudah merasa bahwa menikah adalah suatu kebutuhan, dan sudah siap secara fisik, mental serta materi.

– p : saat sudah diledek sama teman:”koq masih jomblo?”, atau saat butuh temen curhat, atau saat taruhan dengan teman.

Waktu

– t : sesuai dengan adab bertamu.

– p : pagi boleh, siang oke, sore ayo, malam bisa, dini hari klo ngga ada yang komplain juga ngga apa-apa.

Tempat pertemuan

– t : di rumah sang calon, balai pertemuan, musholla, masjid, sekolahan.

– p : di rumah sang calon, kantor, mall, cafe, diskotik, tempat wisata, kendaraan umum & pribadi, pabrik.

Frekuensi pertemuan

– t : lebih sedikit lebih baik karena menghindari zina hati.

– p : lazimnya seminggu sekali, pas malem minggu.

Lama pertemuan

– t : sesuai dengan adab bertamu

– p : selama belum ada yang komplain, lanjut !

Materi pertemuan

– t : kondisi pribadi, keluarga, harapan, serta keinginan di masa depan.

– p : cerita apa aja kejadian minggu ini, ngobrol ngalur-ngidul, ketawa-ketiwi.

Jumlah yang hadir

– t : minimal calon lelaki, calon perempuan, serta seorang pendamping (bertiga). maksimal tidak terbatas (disesuaikan adab tamu).

– p : calon lelaki dan calon perempuan saja (berdua). klo rame-rame bukan pacaran, tapi rombongan.

Biaya

– t : secukupnya dalam rangka menghormati tamu (sesuai adab tamu).

– p : kalau ada biaya: ngapel, kalau ngga ada absent dulu atau cari pinjeman, terus tempat pertemuannya di rumah aja kali ya? tapi gengsi dong pacaran di rumah doang ?? apa kata doi coba ??

Lamanya

– t : ketika sudah tidak ada lagi keraguan di kedua belah pihak, lebih cepat lebih baik. dan ketika informasi sudah cukup (bisa seminggu, sebulan, 2 bulan), apa lagi yang ditunggu-tunggu?

– p : bisa 3 bulan, 6 bulan, setahun, 2 tahun, bahkan mungkin 10 tahun.

Saat tidak ada kecocokan saat proses

– t : salah satu pihak bisa menyatakan tidak ada kecocokan, dan proses stop dengan menyebut alasannya.

– p : salah satu pihak bisa menyatakan tidak ada kecocokan, dan proses stop dengan/tanpa menyebut alasannya.

Source: https://www.facebook.com/notes/akhwat-petualang/perbedaan-taaruf-dengan-pacaran/140332536067305


Kado Untuk Yang Tercinta

Pernikahan Mbak Aisy dan Mas Yayan

Saat cinta yang kita cita-citakan terwujud, alangkah indahnya. Disambut dengan lengkungan senyuman dari sang kekasih yang dicinta. Merekah dari bibir ikhlas tak tergantikan. Menyambut dan disambut kata-kata cinta yang terucap. Merinding dan bergetarlah jiwa. Darahpun mengalir cepat membasahi setiap jiwa yang kering. Jiwa-jiwa yang merindukan kasih sayang dari sang kasih.

Ada yang cemburu. Melihat dua insan bersatu dalam satu akad. satu untuk selamanya. Perjanjian antara imam dan makmum yang akan menakodahi samudera kehidupan. Kehidupan yang tentunya banyak gelombang dan karang yang menghadang. Namun disinilah kita bisa Mencicipi nikmat berdua yang tak pernah dirasakan. Ah cinta alangkah indahnya.

Kau tau saat akad terucap. Malaikat itu tersenyum lebar. Menjadi saksi bukti cinta kalian karena Rabb-nya. tapi kau juga harus tau saat akad terucap bidadari dunia itu lemas tak bisa berbuat apa-apa. Mereka cemburu! Ya cemburu. Cemburu karena bukan dirinya yang terpilih menjadi makmum Sang Pangeran. Begitu pula para pengeran berkuda putih, mereka letih sejenak setelah tau wanita yang sholehah itu telah dimiliki oleh Sang Pangeran dari sebuah Negara Teknik. Itulah cinta. Kau berani atau mempersilahkan yang lain.

Sekarang kau tau. Ternyata kau adalah manusia pilihan yang mendapatkan kekasih yang terbaik. Maka bersyukurlah atas segala karunia ini. maka cintailah kekasihmu hingga ajal menjemput. Seperti penjagaan seorang Muhammad bin Abdullah kepada kekasihnya Khadijah. Hanya ajal yang memisahkan mereka. hanya kematian yang memisahkan raga mereka.

Tapi tenanglah kami adalah para pangeran dan cinderela yang berbahagia atas akad kalian. Barakallaufikum untuk mbak kami yang tersayang Syaja’atul ‘Aisyah, S.Hum dan Mas Yayan Satyawardana, ST. Mudah-mudahan menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warahmah. Aamiin.

Dari Kami yang mencintai kalian^_^

Keluarga Besar Tarbiyah Fakultas Ilmu Budaya UNDIP

Gombal itu Indah

Ehheemm, siapa yang gak tau kata gombal angkat kaki? eh, maksudnya angkat tangan hehe… Heemm.. ternyata kalau dipikir-pikir gombal ini kata seseorang yang udah nikah sebagai penyedap rasa loh. Yah kalau ibarat makanan tanpa garam itu gak ada rasanya. Senyep. Jadi sering-seringlah bergombal ria hehe..Cuman ada tapinya. Nah tentunya gombal ini hanya boleh buat mereka yang udah syah, alias udah halal memiliki. Udah nikah. Dan tujuan menggombal untuk menyenangkan pasanganya. Nah buat yang belum nikah, STOP! Adegan berbahaya haha… nah apakah gombal termasuk berbohong? Aduh gak ngerti deh itu tapi ah kalaupun bohong itu dibolehkan. Aku jadi teringat hadist nabi yang menjelaskan ada beberapa perkara dalam islam yang di bolehkan untuk berbohong, pertama, berbohong untuk melindungi orang yang akan dibunuh, masih ingat gak kisah Rosul yang tahu ada orang dikejar-kejar mau dibunuh kemudian Rosul membalikan badanya, pas ditanya orang yang mau membunuh itu, rosul menjawabnya “selama saya menghadap di sini gak ada orang yang melewati saya” kalau kata guru ngaji saya siy itu tetep aja bohong, katanya karna tidak menjawab maksud dasar, nah yang kedua adalah berbohong untuk menunjukan tempat maksiat, jadi kalau ada yang tanya tempat buat maksiat di semarang dimana? Bohongin aja tuh hehe.. dan yang terakhir nih yang terpenting buat kita ketahui adalah berbohong untuk menyenangkan istrinya. Mari kita simak perbincangan pasangan pengantin muda ini ^_^

A: Abi gimana masakan umi, enak gak?

B: Wah subhanallah enak banget umi, enaknya gak nahan, mantep pokoknya dah

A: Iya dong, kan bikinya pakai cinta ^_^

B: Pantesan penginya nambah terus…

Padahal suaminya dalam hati bilang;

“ hadeeh umiku, ini makan sayur sop apa makan garam batangan, asinya naudzubilah”

Haha..makan garam batangan, kayak apa ya rasanya, hadeeh..ya tapi jangan terus-terusan bilangnya kayak gitu, ntar darah tinggi, soalnya tiap hari kayak makan garam batangan hehe.. sesekali bilang “masakanya enak banget mi, tapi garamnya dikurangi ya, kalau manisnya siy gak usah ditambah gula, soalnya makan bareng sama umi udah bikin manis hihi” Setelah membaca tulisan ini jangan salahkan penulis jika jadi mupeng ingin nikah, ah kabur ah,,selamat beraktivitas, Assalamualaikum ^_^

sumber gambar: http://orangeumar.blogspot.com/2011/11/gombal1.html

Imamku, Dimana Letak Kesholehahanku?

Teruntuk seseorang yang telah tertulis dalam ketentuan-Nya, calon imamku, ayah dari anak-anakku, Dengarkanlah untaian kata dari goresan penaku ini. Dengarkanlah seruan hatiku ini;

Maafkan aku ya tulang rusukku, saat ini aku belum sesholehah yang kau bayangkan. Saat ini jiwaku masih terlalu hitam. Jiwaku masih berlumpur dosa. Aku belum bisa menjadi seorang wanita sholehah yang kau bayangkan. Lisan ini masih terlalu kotor ya kasihku. Lisan ini teramat sering membicarakaan kesalahan Si fulan. Masih sering menjatuhkan Si fulan. Masih suka ghibah ya kasihku. Maka dimana letak kesholehahanku?

Akupun tak seperti yang kau bayangkan. Shalatku kadang masih suka telat. Shalatku teramat sering tak khussyu. Shalat malamku pun bolong-bolong. Shalat dhuha-ku hanya sesempatku saja, seingatku saja. Maka dimana letak kesholehahanku?

Mengajiku tak seindah yang kau bayangkan. Jangankan tartil, Makhrajku saja masih jauh dari sempurna. Bahkan bacaan tajwidkupun masih terbolik-balik. Aku pun tak tau bacaan sujud syahwi. Lagi-lagi aku bertanya padamu, maka dimana letak kesholehahanku?

Hafalan Al-Quranku pun masih terpaksa. Terpaksa karena tiap pekan bertemu dengan ustadz-ustadzku. Aku malu jika aku tak menyetor hafalanku. Aku malu pada teman-temanku. Maka dimana letak kesholehah-anku?

Bahkan mata ini masih terlalu amat banyak berzina. Mata ini masih suka menonton yang bukan menjadi haknya. Mata ini lebih banyak menonton TV dibanding mengaji Al-Quran. Dibanding membaca kumpulan doa Al-Ma’surat, apalagi membaca kumpulan Hadist-hadist yang tebal itu? Maka dimana letak kesholehehanku?

Hatiku tak selembut Fatimah, tak secerdas Aisyah. Aku masih suka berkata menyakitkan kepada saudari-saudariku. Bahkan sehari ini pun aku belum menyapa ibuku, aku belum menyapanya dalam doa. Dimana letak baktiku? Sekali lagi aku bertanya padamu, maka dimana letak kesholehahanku?

Hai laki-laki sholeh yang telah tertulis di lauhul mahfudz, imamku, dan ayah dari anak-anaku, engkau yg setia dan sabar terhadap kami kelak, Masihkah kau ingin memilihku menjadi istrimu? Masihkah kau ingin melanjutkan kehidupanmu denganku? Hai laki-laki sholeh, bahkan membayangkan menjadi sahabatmu saja aku tak berani. Aku sungguh malu membayangkan itu. Apalagi membayangkan aku menjadi istrimu?

Jika kelak kau menjadi suamiku, imam bagi keluargaku, maka ajarkanlah aku semua itu. Ajarkanlah aku menjaga lisanku. Ajarkanlah aku menjaga pandanganku. Ajarkanlah aku shalat khusyu. Ajarkanlah aku mengaji yang benar. Ajarkanlah aku hati yang lembut. Ajarkanlah aku berbakti padamu ya calon ayah dari buah hatiku. ajarkan semuanya padaku.

Aku yakin saat ini kau sedang mempersiapkanya semua. Memantaskan diri menjadi imam bagiku dan buah hatimu kelak. Aku yakin saat ini kau sedang beribadah dengan khusysu. Saat ini kau sedang menjaga pandanganmu. Saat ini kau sedang menjaga lisanmu. Saat ini kau sedang mencintai saudara-saudaramu.

Seandainya yang tertuliskan olehku adalah kebenaran tentangku menurutmu, duhai, alangkah menghibanya aku. Seandainya yang tercatatkan olehku adalah ukuran penilaian mu, duhai, alangkah merananya aku ya kasihku.

Sungguh, aku percaya dengan firman-Nya;

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk permpuan-perempuan yang keji pula, sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula..” (QS. An-Nur:26)

Doakan aku ya kasihku agar aku tetap Istiqomah memperbaiki diri. Doakan aku agar aku memang pantas bersanding di pundakmu. Bersanding berdua bersamamu menikmati secangkir kopi di pagi hari. Bersanding berdua denganmu dalam selimut malam; bersanding denganmu untuk mendapat Surga-Nya.

Aamiin Ya Rabb

Surat Cinta Untuk Kekasihku, Calon Makmumku

Teruntuk calon istriku, aku tahu jika namamu tertulis di lauhul Mahfudz untuk menemani diriku, niscaya rasa cinta itu akan Allah tanamkan dalam diri kita. Walaupun Mungkin saat ini, bahkan, kita belum bertemu sama sekali. Aku tahu kau tak mungkin mencari diriku. Karena sesungguhnya tugasmu memang bukan mencari diriku. Tetapi tugasmu ialah mensholehahkan dirimu ya kasihku. Mensholehahkan ibadahmu ya kasihku. Aku tau mungkin saat ini banyak laki-laki sholeh mendekatimu. Mendekati hatimu untuk mendapatkan akad itu. Namun sungguh aku yakin kau akan tetap menungguku, karena memang telah Allah kirimkan kau untuk diriku. Tentu kau tahu kisah Fatimah yang dilamar sahabat-sahabat Rosul yang terbaik itu tetapi Fatimah memilih kasihnya yang telah Allah tetapkan; Ali Bin Abi Tholib. Maka akupun yakin engkaupun sama.

Wahai seseorang yang akan menerima kelah kesuhku, makmumku, dan ibu dari anak-anaku, engkau yang akan menemani setiap langkah kehidupanku, saat ini mungkin perasaan kita sama. Perasaan kita sama diliputi kegundahan untuk segera bersama. Maafkan aku wahai bidadari dunia dan surgaku, saat ini aku masih memperbaiki diriku, aku belum berani menjemputmu ya kasihku, aku masih memantapkan diriku untuk menjadi imam bagi tulang rusukmu. Menjadi Ayah bagi anak-anakmu. Menjadi segalanya untuk keluarga kita kelak. Aku percaya saat ini kau sedang mensholehahkan dirimu. Memperbanyak hafalan Al-Quranmu, menghamparkan sajadahmu, melekatkan keningmu kepada-Nya. Teruslah mendoakanku ya kasihku agar aku segera memantapkan hatiku untuk menjemputmu. Agar Allah mempermudah jalanku untuk melamarmu dan menikahimu.

Kasihku, Calon istriku yang telah Allah pilih sebagai pendamping hidupku, Jika kau telah menjadi istriku kelak, izinkan aku mencintaimu dengan segenap cinta yang ada dalam hati ini. Mencintaimu agar engkau dan aku serta anak-anak kita semakin cinta kepada-Nya. Duhai pengobat rinduku, mungkin saat kau membaca tulisan ini (kelak, mungkin saat ini kau tak membancanya karena sedang sibuk dengan ibadahmu) engkau akan merasa terharu. Engkau merasa tersentuh. Maka izinkan aku membuat haru jiwamu dengan tingkahku. Tak ada kekotoran dalam kesucian, tak ada kebohongan dalam kejujuran, dan tak ada pengkhianatan dalam kesetiaan.

Ya kasihku, tulang rusukku, bidadari yang telah Allah tetapkan untukku. Aku hanya berdoa semoga saat ini kau baik-baik saja. Saat ini kau sedang sibuk dengan ibadah-ibadahmu. Saat ini kau sedang menyayangi saudara-sadaramu. Aku berdoa semoga engkau senantiasa dalam keadaan baik. Dalam keadaan sehat.  Dan dalam keadaan tersenyum ya kasihku.

Ya kasihku cukup sekian goresan penaku, aku berdoa semoga suatu saat kau menemaniku saat aku goreskan tinta-tintaku lagi. Menggoreskan cerita kepada mereka. Menggoreskan cerita tentang keluarga kita yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Menggoreskan cerita agar mereka juga ikut tersenyum bahagia. Ya kasihku, sungguh, aku mencintaimu karena Allah.

Aamiin Ya Rabb.

Jumat, 10 Februari 2012

Calon Imammu

di sudut penantian