Cinta adalah Keberanian atau Mempersilahkan

Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilakan. Ia adalah keberanian atau pengorbanan (Salim A Fillah).

Sederet tulisan cinta yang ditulis oleh Salim A Fillah, hanya inilah yang masih saya ingat betul. Dalam bagian ini beliau menjelaskan tentang cinta dalam perspektif keberanian atau mempersilahkan orang lain. Cinta tidak pernah meminta untuk menanti apalagi memaksa. Begitulah sekiranya yang diceritakan dalam buku Jalan Cinta Para Pejuang. Cerita bagaimana para sahabat terbaik Rasulullah satu persatu melamar putrinya yang jelita, Fatimah. Namun pada akhirnya Ali Bin Abi Thalib yang terpilih sebagai menantunya; sebagai imam bagi putrinya.

 Dalam bagian ini, kita bisa mengambil beberapa hikmah yaitu:

 1. Cinta adalah suatu keberanian

Cinta dan pemberani sangatlah dekat. Ibarat seorang ksatria dalam medan perang yang menggunakan sebilah pedang. Pedang adalah symbol keberanian seorang kesatria. Kau tunjukan keberaniaan melawan musuh. Kau acungkan pedang untuk menebas musuh. Maka engkaupun bisa memenangkanya atau akan mati syahid dalam jalan Illahi. Engkau masuk syurga firdaus; sebaik-baiknya syurga. Itulah cinta, kau harus berani untuk mendapkanya. Jikaupun kau gagal mendapatkanya niscaya ada pengganti yang lebih indah dari yang kau cinta. Ada sesuatu yang lebih baik dari yang kau inginkan yang telah Allah persiapkan untukmu. Begitulah cinta jika kau tak menjadi seorang pemberani maka jangan harap kau akan mendapatkan cintamu. Jangan habiskan waktumu hanya menjadi pengagum cinta tanpa suatu keberaniaan karena engkau sebenarnya hanya berkhayal. Keberaniaan cinta bukan hanya pada lelaki tetapi wanita juga. Tentu keberaniaan Khadijah meminta Muhammad Bin Abdullah menjadi suaminya adalah teladan bagi kita. Bahwa wanita juga boleh memberanikan diri. Dan sebagai seorang laki-laki tentu kita tidak boleh memandang sipit seakan tak pantas dilakukan oleh seorang wanita. Tidak.

 2. Cinta adalah Mempersilahkan bukan memaksakan

Cinta adalah mempersilahkan bukan memaksakan.  Setelah Abu Bakar mundur, datanglah melamar Fathimah seorang laki-laki lain yang gagah dan perkasa, seorang lelaki yang sejak masuk Islam membuat kaum muslimin berani tegak mengangkat muka, seorang laki-laki yang membuat syaithan berlari takut dan musuh-musuh Allah bertekuk lutut. ’Umar ibn Al Khaththab. Ya, Al Faruq, sang pemisah kebenaran dan kebathilan itu juga datang melamar Fathimah. Dan pada akhirnya lamaran terakhir Ali lah yang disambut dengan Ahlan Wa Sahlan; Selamat datang! Dari cerita di atas kita bisa mengambil hikmah dari sahabat-sahabat Rasul yang begitu berani tetapi mereka juga begitu ikhlas melakukanya. Maka ketika niat baik mereka; lamaran mereka tertolak. Mereka mempersilahkan yang lainya untuk menjemputnya. Tak ada yang memaksakan perasaanya terhadap orang yang dicintainya. Bisa jadi itu (memaksakan) bukanlah sebuah cinta tetapi nafsu dalam diri. Maka jika kita mencintai maka beranikan diri menjemputnya akan tetapi ketika tertolak itu artinya mempersilahkan yang lainya. Itulah Cinta kau berani atau mempersilahkan yang lainya.

3. Cinta adalah sebuah keyakinan

Cinta adalah sebuah keyakinan. Dalam kegamangan hati kau tetap yakin. Dalam kebimbangan hati kau tetap yakin. Pun dalam kesakaun kau tetap yakin. Karena cinta bukan sekedar keberaniaan tetapi ia adalah keyakinan. Ia berani karena yakin. Seperti Fatimah yang sangat yakin orang yang ia cintai akan datang menjemputnya. Padahal dua sahabat Rosul terbaik telah memberanikan diri untuk menjemputnya, berlomba-lomba mendapatkan akad itu. Namun lihatlah seorang Fatimah dia yakin orang yang ia cintai dalam diam akan datang menjemputnya. Hingga setelah menikah ia berkata pada suaminya yang tercinta:

 “hai kekasihku tahukah kau? Sebelum ku menikah, ada seorang pemuda yang aku cintai” ucap Fatimah kepada suaminya; Ali Bin Abi Thalib. Yang ditanyapun penasaran dan penuh tanda Tanya.

 “Siapakah lelaki itu ya Fatimah” jawab Ali penuh tanda Tanya

 “laki-laki itu adalah kau” jawab Fatimah dengan penuh cinta.

 Begitulah Cinta ia memiliki nilai keyakinan. nilai keyakinan ini tentu juga beraslal dari suatu kecenderungan perasaan yang dimiliki oleh seseorang melalui istikharoh cinta kepada-Nya. Tentu kita ingat salah satu hadist berikut ini

 “APABILA datang laki-laki (untuk meminang) yang kamu ridhoi agamanya dan akhlaknya maka nikahkanlah dia, dan bila tidak kamu lakukan akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad).

 Tetapi apa yang terjadi dengan Fatimah dengan sahabat-sahabat Rosul yang telah melamarnya? Semua laki-laki yang melamar Fatimah adalah orang-orang pilihan terbaik saat itu. Sahabat-sahabat yang tak diragukan lagi agama dan akhlaknya. Maka seorang akhwat atau wanita boleh-boleh saja menolak laki-laki yang datang melamarnya walaupun agamanya baik. Tentu Cinta tetaplah cinta. Di dalamnya ada perasaan kecenderungan hati. Di dalamnya ada kekaguman hati. Maka jika Fatimah lebih mencenderungkan hatinya kepada Ali. Itulah cinta; tak ada rumus yang pasti. Maka jika kita seorang laki-laki tertolak lamaranya, janganlah berkecil hati dan jangan pula mencaci wanita yang telah menolak kita karena kita merasa telah baik agamanya. Karena kita merasa  telah memiliki segalanya.

  4. Cinta adalah keikhlsanan

 Seringkali seorang yang cintanya tertolak mudah sekali untuk kecewa. Ia kecewa karena segala ikhtiar dan doanya selama ini tidak terjawab oleh Allah. Bahwa apa yang ia inginkan benar-benar tak terwujud. Janganlah tergesa-gesa kecewa karena pilihan Allah pasti yang terbaik.

 “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqoroh; 216)

 Sesungguhnya Allah lebih mengetahui yang terbaik untuk diri kita. Hingga kekasih sebagai pasangan hidup pun Allah yang lebih mengetahui. Kadang teramat banyak pemuda yang terlalu yakin kemudian dia kecewa karena yang ia yakini ternyata tak seperti yang diharapkan. Maka sesungguhnya hanya keikhlasan sebagai jalan untuk menenangkan jiwa dari segala liku-liku cinta di dunia.

 Ada satu doa sebagi penguat keikhlasan kita dalam mencintai seseorang dengan penuh keihkhlasan. Doa yang diucapkan Rosulullah kepada Rabb-Nya. Sebuah doa yang patut kita teladani;

 “Ya Allah, berilah aku rezeki cinta Mu dan cinta orang yang bermanfaat buat ku cintanya di sisi Mu. Ya Allah segala yang Engkau rezekikan untukku di antara yang aku cintai, jadikanlah itu sebagai kekuatanku untuk mendapatkan yang Engkau cintai. Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan di antara sesuatu yang aku cintai, jadikan itu kebebasan untuku dalam segala hal yang Engkau cintai.” (HR. Al-Tirmidi)

 Dalam doa tersebut mengisyaratkan manakala kita mencintai sesuatu maka jadikan itu sebagai kekuatan agar bisa mendapatakan apa yang Allah cintai dan jika Allah menyingkirkan apa yang kita cintai maka jadikan itu sebagai kebebasan untuk senantiasa mencintai apa yang Allah cintai.

 Bukan karena mencintaimu aku menjadi merana. Bukan pula karena mengagumimu aku menjadi menderita. Tetapi saat ku artikan cinta adalah kebersamaan denganmu, itulah penderitaan cinta yang sesungguhnya. karena cinta adalah keberaniaan atau mempersilahkan. Ia bukanlah rangkaian kata kerja pemaksaan. Yaitu Pemaksaan kebersamaan denganmu.

Barakallahufiikum, semoga bermanfaat ^_^

Iklan

Ketika Mencintai Tak Bisa Menikahi; Bersabarlah!

Alangkah bahagianya jika cinta yang hendak kita bingkai dalam nuansa indah pernikahan, mendapatkan sapaan lembut, sambutan hangat serta sunggingan senyum dari dia yang kita dambakan. Namun betapa nestapanya ketika cinta tulus yang kita ungkapkan ternyata harus bertepuk sebelah tangan. Saat diri berusaha menjaga kesucian hati,kebersihan pandangan serta kejernihan pikiran dari ranjau-ranjau syetan yang menjerumuskan. Saat diri berusaha menjaga dari dosa,merajut tali kasih di atas cinta-Nya. Untuk menyempurnakan separuh agama-Nya.

Namun bagaimana jika cinta kita tertolak? sakitkah? ambrukah? putus asakah kita? terpuruk? atau mau bunuh diri?tidak! karena Allah telah menyiapkan seseorang yang terbaik untuk diri kita. jangan cepat-cepat putus asa karena sesungguhnya Allah lebih tahu seseorang yang seperti apa yang harus kita cintai.

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Q.S. Al-Baqoroh; 216)

Berdoa di kedalaman hatiku
Tersembunyi harapan yang suci
Tak perlu engkau menyangsikan

Lewat kesalihanku
Yang terukir menghiasi dirimu
Tak perlu dengan kata-kata

Sungguh walau ku kelu
Tuk mengungkapkan perasaanku
Namun penantianmu pada diriku
Jangan salahkan

Kalau memang kau pilihkan aku
Tunggu sampai aku datang
Nanti kubawa kau pergi
Ke surga abadi

Kini belumlah saatnya
Aku membalas cintamu
Nantikanku di batas waktu

edcouistic

Aku Mencintaimu Dalam Diam

Sesungguhnya yang mendatangkan rasa cinta ini, yang mendatangkan rasa kagum ini, yang memekarkan hati ini adalah dari-Nya. Sungguh aku hanya bisa menerimanya. Aku hanya bisa pasrah tertegun tak bisa mengelak atas perasaan ini padamu. Tertegun dalam keindahan akhlakmu. Tertegun dalam manisnya lisanmu. Tertegun dalam tenangnya pandanganmu. Dan tertegun pula dalam kesejukan busanamu. Semua begitu sempurna, sungguh sempurna. Sesempurna  sesuai firman-Nya.

Aku yang mengagumimu dalam diam. Utuh tak tersentuh. Seperti mentari yang menyapa bunga-bunga bermekaran. Tak pernah menyentuh namun cintanya terasa bagi kuntum-kuntum bunga yang sedang bermekaran itu. Karena aku mengagumi maka izinkan aku tak mengusik khusyunya ibadahmu. Izinkan  aku tak  mengusik ketenangan hatimu. Tak mengapa aku tak bertegur sapa denganmu. Cukuplah bagiku menyapamu dalam doa-doaku. Cukuplah bagiku tersenyum lezat melihatmu bahagia. Cukuplah bagiku menyebut namamu dalam hamparan sajadahku.

Aku yang tersentuh akhlak muliamu, aku yang terkagum lekat dalam sikapmu, mencintaimu dalam diam mungkin lebih baik bagi diriku dan dirimu. Lebih mulia bagi perasaanku dan perasanmu. Lebih menjaga kehormatanmu. Lebih menjaga kemuliaanmu. Maka izinkan aku, hai engkau yang begitu mulia, izinkan aku mencintaimu dalamn keikhlasan karena aku tak pernah tau apakah engkau yang tercatat dalam lauful mahfudz untukku? Karena aku tak pernah tau adakah balasan darimu untukku. Biarlah kuasa Allah yang menggerakan hatimu untukku.

Bukan karena mencintaimu dengan diam aku akan menderita. Bukan karena mengagumimu dengan diam aku akan merana. Namun, ketika ku artikan cinta itu pada sisi kehadiran dan kebersamaan denganmu. Maka itu lah penderitaan yang sesungguhnya.

Aku yang mencintaimu dari kejauhan. Walaupun sungguh aku merasa sangat dekat denganmu. Biarlah aku dekap rapat perasaanku ini. Biarlah aku tutup rapat hingga Allah mengizinkan pertemuan kita. Namun jika memang engkau bukan tercatat untukku. Jika memang engkau hanya hiasan duniaku yang sementara, sungguh aku yakin Allah akan menghapus cinta dalam diamku padamu. Allah akan menghilangkan perasaanku untukmu. Dia akan memberikan rasa yang lebih indah pada orang yang paling tepat. Begitulah kuasa-Nya. Begitulah Dzat yang membolak-balikan hati hamba-Nya.

“Ketika aku tak lagi terkagum denganmu, maka pahamilah jejakku.. Karena mungkin, aku pernah menulis tentangmu  dan meyapa namamu dalam tiap untaian doaku”

Dalam Diam

Wisma As-Sabab.