Dalam Kegamangan Hati; Istikharohlah!

Jiwa seringkali menggalaukan hati. Ketika kau terteguh dalam pilihanmu namun ada cinta lain yang menyapa dari arah yang tak disangka. Kau pun risau tak pernah terpikir dalam dunia akalmu. Maka manakala ada dua cinta yang tersapa dan menyapa maka hanya istikharoh cinta sebagai jalan keluar menuju tuntunan-Nya.

            Maka siapa yang akan menyangka ketika kita mendambakan cinta dari seseorang dalam diam. Ketika telah mempertahankan rasa dalam diam, kemudian ada cinta lain yang menyapamu? Ah tentu hati menjadi risau. Hati menjadi galau.

            Mencinai dan dicintai adalah fitrah manusia. Namun terlalu banyak anak adam yang terlalu disibukan dengan cinta. Ia memberikan yang terbaiknya kepada orang yang dicintainya. Namun kadang para anak adam ini tidak memperhatikan bahwasanya diluar sana ada bidadari-bidadari yang juga sedang memperhatikanya. Ada laki-laki yang terpesona dengan kesholehahanmu. Ada wanita-wanita yang jatuh cinta dengan kesholehanmu.

            Dalam cinta ada kagum yang menjadikan kita menjadi pemberani lantas kita yakin akan menjemputnya. Namun, saat kita telah yakin, saat kita akan melangkahkan kaki kepadanya. Tiba-tiba ada bidadari lain yang datang mendekatimu. Tiba tiba ada pangeran lain yang mengungkapakan dia telah siap menjadi seorang imam. Aku telah siap menjadi imammu, “Maukah kau menjadi teman sejatiku?” tentu jiwa kita kelu. Mana yang harus aku pilih?

            Itulah cinta, rumit! Tak ada rumus dalam cinta yang pasti. Tidak ada campuran kimia yang pasti. Tak ada pula komponen elektron yang paten. Karena kerumitan cinta itulah kita butuh campur tangan Tuhan! Maka hanya menyandarkan kepada Allah hati akan menjadi tenang. Karena sesuatu yang disandarkan kepada-Nya akan mengahadirkan ketenangan hati dan kelapangan jiwa.

            Bisa jadi Allah datangkan seseorang itu untuk menguji kecintaanmu kepada Rabb-mu. Yaitu adakah pengakuan darimu bahwa kita adalah makhluk yang lemah yang membutuhkan campur tangan Tuhan? Untuk mengukur seberapa besar kita melibatkan Allah dalam menentukan setiap pilihan-pilihan dalam hidup kita.

            Maka kesempurnaan cinta terletak pada kemantapan hati dari istikharoh cinta kita kepada-Nya.

Surat Cinta Untuk Kekasihku, Calon Makmumku

Teruntuk calon istriku, aku tahu jika namamu tertulis di lauhul Mahfudz untuk menemani diriku, niscaya rasa cinta itu akan Allah tanamkan dalam diri kita. Walaupun Mungkin saat ini, bahkan, kita belum bertemu sama sekali. Aku tahu kau tak mungkin mencari diriku. Karena sesungguhnya tugasmu memang bukan mencari diriku. Tetapi tugasmu ialah mensholehahkan dirimu ya kasihku. Mensholehahkan ibadahmu ya kasihku. Aku tau mungkin saat ini banyak laki-laki sholeh mendekatimu. Mendekati hatimu untuk mendapatkan akad itu. Namun sungguh aku yakin kau akan tetap menungguku, karena memang telah Allah kirimkan kau untuk diriku. Tentu kau tahu kisah Fatimah yang dilamar sahabat-sahabat Rosul yang terbaik itu tetapi Fatimah memilih kasihnya yang telah Allah tetapkan; Ali Bin Abi Tholib. Maka akupun yakin engkaupun sama.

Wahai seseorang yang akan menerima kelah kesuhku, makmumku, dan ibu dari anak-anaku, engkau yang akan menemani setiap langkah kehidupanku, saat ini mungkin perasaan kita sama. Perasaan kita sama diliputi kegundahan untuk segera bersama. Maafkan aku wahai bidadari dunia dan surgaku, saat ini aku masih memperbaiki diriku, aku belum berani menjemputmu ya kasihku, aku masih memantapkan diriku untuk menjadi imam bagi tulang rusukmu. Menjadi Ayah bagi anak-anakmu. Menjadi segalanya untuk keluarga kita kelak. Aku percaya saat ini kau sedang mensholehahkan dirimu. Memperbanyak hafalan Al-Quranmu, menghamparkan sajadahmu, melekatkan keningmu kepada-Nya. Teruslah mendoakanku ya kasihku agar aku segera memantapkan hatiku untuk menjemputmu. Agar Allah mempermudah jalanku untuk melamarmu dan menikahimu.

Kasihku, Calon istriku yang telah Allah pilih sebagai pendamping hidupku, Jika kau telah menjadi istriku kelak, izinkan aku mencintaimu dengan segenap cinta yang ada dalam hati ini. Mencintaimu agar engkau dan aku serta anak-anak kita semakin cinta kepada-Nya. Duhai pengobat rinduku, mungkin saat kau membaca tulisan ini (kelak, mungkin saat ini kau tak membancanya karena sedang sibuk dengan ibadahmu) engkau akan merasa terharu. Engkau merasa tersentuh. Maka izinkan aku membuat haru jiwamu dengan tingkahku. Tak ada kekotoran dalam kesucian, tak ada kebohongan dalam kejujuran, dan tak ada pengkhianatan dalam kesetiaan.

Ya kasihku, tulang rusukku, bidadari yang telah Allah tetapkan untukku. Aku hanya berdoa semoga saat ini kau baik-baik saja. Saat ini kau sedang sibuk dengan ibadah-ibadahmu. Saat ini kau sedang menyayangi saudara-sadaramu. Aku berdoa semoga engkau senantiasa dalam keadaan baik. Dalam keadaan sehat.  Dan dalam keadaan tersenyum ya kasihku.

Ya kasihku cukup sekian goresan penaku, aku berdoa semoga suatu saat kau menemaniku saat aku goreskan tinta-tintaku lagi. Menggoreskan cerita kepada mereka. Menggoreskan cerita tentang keluarga kita yang sakinah, mawadah, dan warahmah. Menggoreskan cerita agar mereka juga ikut tersenyum bahagia. Ya kasihku, sungguh, aku mencintaimu karena Allah.

Aamiin Ya Rabb.

Jumat, 10 Februari 2012

Calon Imammu

di sudut penantian