Pengorbanan Seorang Ayah; Pernahkah Kita Merenunginya?

Ayah adalah sesosok laki-laki yang patut untuk dikagumi sifat, sikap, dan perbuatannya. Ayah memiliki tanggungjawab besar untuk keluarga dan kasih sayangnya tidak perlu diragukan karena setara dan mungkin lebih besar. Seperti kata orang, ibu memiliki kasih sayang yang besar pada anak karena ibu yang melahirkan dan mengasuh anak. Tapi, kasih sayang ayah -mungkin- jauh lebih besar. Fitrah ayah yang tak mampu seperti ibu yang dapat melahirkan, sehingga membuat kasih sayang ayah akan lebih besar dan dalam. Karena adakalanya ayah iri melihat anak-anak lebih dekat dengan ibunya. Oleh karena itu, semaksimal mungkin ayah akan memenuhi permintaan dan kebutuhan keluarga terutama untuk anak-anaknya. Kebahagiaan anggota keluarga dalah kebahagiaan dirinya. Itulah gambaran seorang ayah.

Sifat ayah pada dasarnya adalah mengayomi, bertanggungjawab dan berusaha membuat anggota keluarga senang dan bahagia. Pendidikan, pengetahuan dan pendapatan yang rendah tidak akan menghalangi munculnya sifat alami tersebut pada sosok ayah. Mungkin ayah pernah marah atau memukul anak-anaknya, tapi percayalah bahwa hal tersebut merupakan bentuk kasih sayangnya. Ayah berharap anak-anaknya menjadi seorang manusia yang tidak rapuh, tidak nakal/menyalahi aturan, kuat, bertanggungjawab, dan menjadi manusia yang mandiri dalam menjalani proses kehidupan yang panjang dan berliku. Proses tersebut membutuhkan banyak bekal diantaranya sifat-sifat yang diajarkan ayah sewaktu kecil dengan memarahi, memukul, atau memberi kasih sayang. Untuk menjalani kehidupan tidak akan semudah dalam bayangan seperti dalam dongeng/cerita peri, bim salabim langsung jadi. Semua pekerjaan dan pilihan hidup membutuhkan keyakinan dan usaha. Hal tersebutlah yang selalu diajarkan ayah pada anak-anaknya.

Ayah memiliki tanggungjawab yang besar dalam mendidik anak. Namun, selain itu beliau juga memiliki tanggungjawab untuk memberi nafkah pada keluarga. Seberapa capek dan keringat bercucuran beliau tetap bekerja. Walaupun tulang mulai merapuh, kulit mengeriput, nafas tidak lagi kuat beliau tetap berjalan tegak mencari nafkah untuk keluarga.

    @@@@@

Waktu itu tanggal 29/12/2011 kakak perempuan ayah menikahkan anaknya dan ‘nanggap ketoprak’, salah satu pertunjukan kesenian Jawa. Tapi, ayah tetap pergi mencari nafkah ke laut. Mungkin waktu itu beliau melalui sebuah proses yang panjang untuk berfikir, harus memilih mendatangi hajatan atau pergi mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan. waktu itu saya pasti sangat bingung mau memilih yang mana jika saya berperan sebagai seorang imam keluarga. Tapi, ayah dengan tenang memilih hal tersebut. Walaupun ibu menyuruh untuk tidak usah pergi ke laut dan mendatangi acara hajatan, tapi beliau ‘kekeh’ dengan keputusan tersebut. Dia tetap melaut! Sungguh besar pengorbanan dan tanggungjawab beliau untuk keluarga. Beliau pergi dengan harapan mencari nafkah untuk kebutuhan, cukup ataupun tidak yang penting berusaha dulu daripada hutang. Saya sebagai seorang anak terharu dan bahagia. Karena hari itu saya merasakan perjuangan seorang ayah. Saat beliau melihat kekurangan dalam hal keuangan, beliau berusaha mencukupi kebutuhan keluarga bagaimanapun keadaannya dan pergi meninggalkan keluarga untuk mencari nafkah. Meskipun pada akhirnya saya tahu bahwa mendatangi sebuah undangan pernikahan adalah wajib sebagai seorang muslim. Tapi saya melihat sebuah perjuangan dan kerelaan seorang Ayah demi keluarga yang dicintainya.

Doaku pada ALLAH

    Ya, Allah berikan kebahagiaan dan ketentraman pada ayah hamba.
    Saya memohon engkau memberikan rezeki yang halal dan barokah lagi cukup.
    Sudah berapa banyak peluh yang telah ayah cucurkan,
    tapi beliau tidak pernah mengeluh.
    Walaupun sudah memasuki usia di atas 50,
    beliau tidak pernah menyerah untuk bekerja dan mencari nafkah,
    semata-mata untuk beribadah kepada Engkau ya ALLAH.
    Hambamu berdoa semoga engkau (ALLAH SWT) memberikan jalan yang benar, lurus kepada ayah dan ibu hamba. Ampuni dosa-dosanya, dan berikan hidayah pada keduanya bila mereka dalam keadaan yang miring. Izinkan orang tua saya berjalan lurus dan beribadah
    sesuai dengan akidah dan syariat-Mu. Bimbinglah kedua orang tua hamba ke jalan engkau ridhoi dan jadikanlah keduanya orang-orang yang akan masuk surga.
    Amin ya Rabbal Alamin….

Di Kirim Oleh Dewi Mulad Sari
Bagi teman-teman yang juga ingin berbagi tulisan silahkan bisa dikirim ke Awankucerah@gmail.com

Gombal itu Indah

Ehheemm, siapa yang gak tau kata gombal angkat kaki? eh, maksudnya angkat tangan hehe… Heemm.. ternyata kalau dipikir-pikir gombal ini kata seseorang yang udah nikah sebagai penyedap rasa loh. Yah kalau ibarat makanan tanpa garam itu gak ada rasanya. Senyep. Jadi sering-seringlah bergombal ria hehe..Cuman ada tapinya. Nah tentunya gombal ini hanya boleh buat mereka yang udah syah, alias udah halal memiliki. Udah nikah. Dan tujuan menggombal untuk menyenangkan pasanganya. Nah buat yang belum nikah, STOP! Adegan berbahaya haha… nah apakah gombal termasuk berbohong? Aduh gak ngerti deh itu tapi ah kalaupun bohong itu dibolehkan. Aku jadi teringat hadist nabi yang menjelaskan ada beberapa perkara dalam islam yang di bolehkan untuk berbohong, pertama, berbohong untuk melindungi orang yang akan dibunuh, masih ingat gak kisah Rosul yang tahu ada orang dikejar-kejar mau dibunuh kemudian Rosul membalikan badanya, pas ditanya orang yang mau membunuh itu, rosul menjawabnya “selama saya menghadap di sini gak ada orang yang melewati saya” kalau kata guru ngaji saya siy itu tetep aja bohong, katanya karna tidak menjawab maksud dasar, nah yang kedua adalah berbohong untuk menunjukan tempat maksiat, jadi kalau ada yang tanya tempat buat maksiat di semarang dimana? Bohongin aja tuh hehe.. dan yang terakhir nih yang terpenting buat kita ketahui adalah berbohong untuk menyenangkan istrinya. Mari kita simak perbincangan pasangan pengantin muda ini ^_^

A: Abi gimana masakan umi, enak gak?

B: Wah subhanallah enak banget umi, enaknya gak nahan, mantep pokoknya dah

A: Iya dong, kan bikinya pakai cinta ^_^

B: Pantesan penginya nambah terus…

Padahal suaminya dalam hati bilang;

“ hadeeh umiku, ini makan sayur sop apa makan garam batangan, asinya naudzubilah”

Haha..makan garam batangan, kayak apa ya rasanya, hadeeh..ya tapi jangan terus-terusan bilangnya kayak gitu, ntar darah tinggi, soalnya tiap hari kayak makan garam batangan hehe.. sesekali bilang “masakanya enak banget mi, tapi garamnya dikurangi ya, kalau manisnya siy gak usah ditambah gula, soalnya makan bareng sama umi udah bikin manis hihi” Setelah membaca tulisan ini jangan salahkan penulis jika jadi mupeng ingin nikah, ah kabur ah,,selamat beraktivitas, Assalamualaikum ^_^

sumber gambar: http://orangeumar.blogspot.com/2011/11/gombal1.html

Imamku, Dimana Letak Kesholehahanku?

Teruntuk seseorang yang telah tertulis dalam ketentuan-Nya, calon imamku, ayah dari anak-anakku, Dengarkanlah untaian kata dari goresan penaku ini. Dengarkanlah seruan hatiku ini;

Maafkan aku ya tulang rusukku, saat ini aku belum sesholehah yang kau bayangkan. Saat ini jiwaku masih terlalu hitam. Jiwaku masih berlumpur dosa. Aku belum bisa menjadi seorang wanita sholehah yang kau bayangkan. Lisan ini masih terlalu kotor ya kasihku. Lisan ini teramat sering membicarakaan kesalahan Si fulan. Masih sering menjatuhkan Si fulan. Masih suka ghibah ya kasihku. Maka dimana letak kesholehahanku?

Akupun tak seperti yang kau bayangkan. Shalatku kadang masih suka telat. Shalatku teramat sering tak khussyu. Shalat malamku pun bolong-bolong. Shalat dhuha-ku hanya sesempatku saja, seingatku saja. Maka dimana letak kesholehahanku?

Mengajiku tak seindah yang kau bayangkan. Jangankan tartil, Makhrajku saja masih jauh dari sempurna. Bahkan bacaan tajwidkupun masih terbolik-balik. Aku pun tak tau bacaan sujud syahwi. Lagi-lagi aku bertanya padamu, maka dimana letak kesholehahanku?

Hafalan Al-Quranku pun masih terpaksa. Terpaksa karena tiap pekan bertemu dengan ustadz-ustadzku. Aku malu jika aku tak menyetor hafalanku. Aku malu pada teman-temanku. Maka dimana letak kesholehah-anku?

Bahkan mata ini masih terlalu amat banyak berzina. Mata ini masih suka menonton yang bukan menjadi haknya. Mata ini lebih banyak menonton TV dibanding mengaji Al-Quran. Dibanding membaca kumpulan doa Al-Ma’surat, apalagi membaca kumpulan Hadist-hadist yang tebal itu? Maka dimana letak kesholehehanku?

Hatiku tak selembut Fatimah, tak secerdas Aisyah. Aku masih suka berkata menyakitkan kepada saudari-saudariku. Bahkan sehari ini pun aku belum menyapa ibuku, aku belum menyapanya dalam doa. Dimana letak baktiku? Sekali lagi aku bertanya padamu, maka dimana letak kesholehahanku?

Hai laki-laki sholeh yang telah tertulis di lauhul mahfudz, imamku, dan ayah dari anak-anaku, engkau yg setia dan sabar terhadap kami kelak, Masihkah kau ingin memilihku menjadi istrimu? Masihkah kau ingin melanjutkan kehidupanmu denganku? Hai laki-laki sholeh, bahkan membayangkan menjadi sahabatmu saja aku tak berani. Aku sungguh malu membayangkan itu. Apalagi membayangkan aku menjadi istrimu?

Jika kelak kau menjadi suamiku, imam bagi keluargaku, maka ajarkanlah aku semua itu. Ajarkanlah aku menjaga lisanku. Ajarkanlah aku menjaga pandanganku. Ajarkanlah aku shalat khusyu. Ajarkanlah aku mengaji yang benar. Ajarkanlah aku hati yang lembut. Ajarkanlah aku berbakti padamu ya calon ayah dari buah hatiku. ajarkan semuanya padaku.

Aku yakin saat ini kau sedang mempersiapkanya semua. Memantaskan diri menjadi imam bagiku dan buah hatimu kelak. Aku yakin saat ini kau sedang beribadah dengan khusysu. Saat ini kau sedang menjaga pandanganmu. Saat ini kau sedang menjaga lisanmu. Saat ini kau sedang mencintai saudara-saudaramu.

Seandainya yang tertuliskan olehku adalah kebenaran tentangku menurutmu, duhai, alangkah menghibanya aku. Seandainya yang tercatatkan olehku adalah ukuran penilaian mu, duhai, alangkah merananya aku ya kasihku.

Sungguh, aku percaya dengan firman-Nya;

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk permpuan-perempuan yang keji pula, sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik pula..” (QS. An-Nur:26)

Doakan aku ya kasihku agar aku tetap Istiqomah memperbaiki diri. Doakan aku agar aku memang pantas bersanding di pundakmu. Bersanding berdua bersamamu menikmati secangkir kopi di pagi hari. Bersanding berdua denganmu dalam selimut malam; bersanding denganmu untuk mendapat Surga-Nya.

Aamiin Ya Rabb