Demi Kuliah di Universitas Idaman; Aku Memboncengkan Akhwat Bukan Makhrom!

Pertanyaan pertama saya adalah apa yang teman-teman pikirkan setelah membaca judul di atas? Bolehlah apa saja, mari kita simak salah satu ceritaku (pengalaman asli). Mudah-mudahan bisa diambil ibrohnya. Silahkan dibaca sampai tuntas. Jangan lupa siapkan tisu barangkali mau nangis. Barangkali mau istighfar sebanyak-banyaknya. Jika puasa batal saya tidak ikut bertanggung jawab.

Hmmm… Ambil nafas..keluarkan phuuuuss…

karena ini cerita maka saya pakai bahasa cerita hehe..siap? ready?

1

2

3

Waktu itu di bulan Mei aku mendaftar studi kuliahku S2 Di UGM. Nah temen-temen tau lah banyak syarat dan berkas yang harus dipersiapkan ketika mendaftar kayak ginian. Dari fotokopi ijazah, transkip nilai, surat rekomendasi, rencana studi, dan surat keterangan kesehatan serta lain-lain tetek bengeknya yg cukup menguras banyak energi, waktu, dan kesabaran. Nah aku mau cerita saat mengurus surat keterangan kesehatan di Puskesmas. Kejadian yang menghancurkan harga diriku huhu..Dari sinilah kejadian unik ini akhirnya aku beranikan untuk dibagi kepada teman-teman. Mau tau ceritanya? Yuk ganti paragraf dulu J

Rabu itu pagi masih terselimuti embun. Mentari masih malu keluar dari dalam langit. Awan terlihat tak secerah seperti wajahku yang tak terbungkus senyum. Hanya sesekali dengkuran burung dara meramaikan pagi. Initine kejaidan ini terjdadi pagi-pagi hehe…lanjut!

Jam sembilan pagi aku berangkat ke Puskesmas di Tembalang, Semarang. Saat sampai di Puskesmas ternyata sudah banyak bapak-ibu, kakek-nenek, dan anak-anak yang sedang mengantri. Ramai. Panas. Sumpeg. Aku pun menemui petugas kesehatan yang berjaga disitu. Ternyata kata ibu pegawai tersebut tes kesehatanya baru bisa jam sepuluh siang nanti. Alasanya karena petugas yang mengurus tes kesehatan datangnya baru jam sepuluh (dasar PNS hehe..)

Sebenarnya aku paling males datang ke tempat yang berbau obat. Rasanya badan jadi lemas semua. Apalagi kalau melihat darah dan suntik. Wew. Gak kuat. Makanya Ahamdulillah aku gak pernah masuk ke rumah sakit karena sakit selama ini. Tapi ya sudah dinikmati saja menunggu sambil menghirup bau obat di Puskesmas huhu..

Nah pas aku sedang duduk menunggu ada seorang akhwat (wanita) yang duduk di sebelahku. Dia menyapa duluan. Ya mungkin karena kepribadianya ekstrovet yang sangat terbuka dalam bergaul, sedangkan kepribadianku introvet. Jadi sifat dasarku sebenarnya seorang pemalu apalagi di tempat yang asing tak dikenal.

Wanita                 :     masnya kerja atau kuliah?

Aku                       :     kerja,

Wanita                 :     kerja dimana?

Aku                       :     ngajar

Wanita                 :     ohh,, rumahnya dimana?

Aku                       :     di Meteseh perumahan Dinar Mas,

Wanita                 :     oh sama berarti, saya juga di meteseh

Begitulah kurang lebih awal percakapanku dengan si akhwat tersebut. Selanjutnya kita bercerita banyak, termasuk maksud dan tujuan kenapa sekarang di Puskesmas. Intinya akhwat tersebut minta dianterin ke rumahnya di Meteseh. Alasanya karena gak tau cara pulangnya gimana dan gak mungkin jalan kaki. Aku sebenarnya bingung tujuh keliling. Pertama bingung masalah memboncengkan wanita tersebut. Karena aku belum pernah memboncengkan wanita yg bukan makhrom dari lahir, dari dulu. Suer!!! Apalagi setelah kuliah aku rajin mentoring (ngaji) jadi lebih paham dan Takut dosa hehe..

Dari Ma’qil bin Yasar dari Nabi s.a.w., beliau bersabda, “Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang di antara kamu dengan jarum besi itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR Thabrani dan Baihaqi)

Jadi ini adalah yang pertama kalinya mboncengin yang bukan makhrom huhu… Dasar akhwat menggoda keimananku :p Dan Sebenarnya aku punya mimpi wanita yg sebelumnya bukan makhrom yang pertama kali aku boncengkan adalah istriku kelak!

Alasan kedua adalah, aku sudah menunggu hampir jam sepuluh, nah kalau aku pergi dan mengantarkan akhwat tersebut maka nomer antrianku akan jadi lama. Karena iba dan kasihan akhirnya aku boncengkan akhwat tersebut, serrrrr :p

Nah, karena aku sangat jarang memboncengkan wanita (kecuali keluargaku) maka aku sangat hati-hati. Pelan-pelan sekali. Yang biasanya kecepatan 60 berkurang jadi separohnya. Ya demi keselamatan. Hatikupun penuh deg-degan karena yang aku boncengin adalah seorang akhwat yang bukan makhrom. Uhuk-uhuk hehe…

Sampailah pada depan rumahnya, setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menitan. Akhwat tersebut pun turun dari motorku dan mengucapkan banyak terima kasih padaku.

“Mak matur suwun ya, mudah-mudahan kerjanya sukses, cita-citanya terkabulkan, sekolahnya lancar, rezekinya lancar,  dimudahkan segala urusanya sama Allah. Hati-hati nak ya..”

“iiya mbah, mboten nopo-nopo, njih sampun kulo pamit rihin mbah, bade teng puskesmas malih”

(terjemahan: iya nek, tidak apa-apa, sma-sama, saya pamit dulu ya, mau ke puskesmas lagi)

Betul sekali. Wanita yang aku boncengin adalah seorang nenek hehe…yang sudah tua dengan rambutnya yang telah putih. Mungkin umurnya diatas 60 tahunan. Jadi Maaf ya bukan akhwat muda yang aku boncengin hehehe… jad siapa? Nenek-nenek yang aku boncengin ahaha!

Nah kemarin-kemarin gak sengaja Blogging nemu hadist tentang Kebolehan kita memboncengkan perempuan yang bukan mahram, yaitu apabila kita menjumpai di suatu tempat di jalan, sedang dia tidak sanggup berjalan lagi khususnya apabila kita bersama-sama dengan orang lain. Seperti nenek diatas yang sudah tua renta tak diurus oleh anak-anaknya. Akupun jadi merenung nenek sudah tua kok pergi ke puskesmas sendirian tak ditemani oleh anaknya? Dasar anak zaman sekarang, mudah-mudahan kita tidak demikian ya teman-teman. Aamiin.

Hadis riwayat Asma binti Abu Bakar ra., ia berkata:

Zubair mengawiniku sedangkan ia tidak memiliki harta atau hamba sahaya atau apapun kecuali kudanya. Akulah yang memberi makan kudanya, mencukupi bahan makanannya, mengurusnya, menumbukkan biji bagi hewan penyiramnya, memberinya makan, memberi minum, menjahitkan timbanya dan membuatkan adonan rotinya. Tetapi, aku tidak pandai membuat roti karena itu wanita Ansar tetanggakulah yang membuatkan roti untukku. Mereka adalah para wanita yang jujur. Ia berkata: Aku biasa memindahkan biji kurma dari tanah Zubair yang diberikan Rasulullah saw. dengan memanggulnya di atas kepalaku yang berjarak kira-kira duapertiga farsakh (1 farsakh = 3 mil). Ia berkata lagi: Suatu hari aku datang membawa biji kurma di atas kepalaku lalu bertemu dengan Rasulullah saw. beserta beberapa orang sahabat. Beliau memanggilku, kemudian mengucap: Ikh, ikh (ucapan untuk menderumkan untanya). Beliau bermaksud memboncengku di belakangnya. Asma berkata: Aku merasa malu dan aku tahu kecemburuanmu. Zubair berkata: Demi Allah! Engkau memanggul biji kurma di atas kepala adalah lebih berat daripada engkau menunggang bersama beliau. Ia berkata: Sampai Abu Bakar ra. mengirimkan seorang pembantu yang mengambil alih pengurusan kuda, seakan-akan ia telah membebaskanku. (Shahih Muslim No.4050)

Hadist ini menjeaskan boleh memboncengkan wanita bukan makhrom yang telah kepayahan.

Alhamdulillah Doanya nenek terkabulkan, Alhamdulillah saat pengumuman S2 UGM, aku diterima! Jadi kalau temen-temen mau diijabahi keinginanya segera boncengin nenek-nenek ya hehe.. terima kasih telah membaca tulisan ini sampai selesai, Insya Allah mudah-mudahan akhwat muda yang sebelumnya non makhrom yang pertama nanti aku boncengin adalah istriku kelak, hehehe..aamiin, siapa dia? Wallahua’lam ^_^

13 thoughts on “Demi Kuliah di Universitas Idaman; Aku Memboncengkan Akhwat Bukan Makhrom!

  1. waaaaah o.0 si om bikin ngakak dah =D =D
    *Suka*
    jadi inget pengalaman dulu, jangan2 si “ikhwan” nulis cerita kaya om juga lagi =,,=”
    kalo kepepet pan kaga papa ya om ^.^v (udah disebutin di cerita tadi)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s