Dewasa Dini Menjadi Pilihan Cerdas Bagi Perkembangan Kepribadiaan Anak

Dewasa dini? Jangan salah dan jangan langsung berpikir ke arah negatif. Mungkin memang terasa aneh dan tidak lazim ketika dikatakan bahwa dewasa dini adalah suatu hal yang baik, apalagi dikatakan sebagai sebuah pilihan cerdas, bagaimana bisa?

Dewasa dini seringkali ditafsirkan sebagai hal negatif, disamakan artinya dengan dewasa sebelum usia dimana seorang anak telah tahu dan mengerti hal-hal yang belum semestinya, atau belum sesuai dengan usia kronologis dan mentalnya. Sebuah pengertian dan pemahaman yang juga telah terpola pada masyarakat, bahwa dewasa dini lebih diartikan dan lebih diorientasikan pada suatu pemahaman seksual. Misalnya, ketika seorang anak sekolah dasar sudah mengenal pacaran, atau anak yang masih dalam usia belia ternyata sudah tahu tentang masalah yang dianggap “dewasa”, nah pengertian seperti inilah yang menurut masyarakat disebut sebagai dewasa dini. Lantas, bagaimana bisa dewasa dini menjadi sebuah pilihan cerdas bagi pengembangan kepribadian bagi anak? Mungkin perlu kita telaah lebih mendalam apa sebenarnya dewasa itu dan bagaimana sebuah karakteristik dewasa dapat memberikan suatu nilai positif ketika diterapkan pada anak.

Dewasa secara istilah, menggambarkan segala organisme yang telah matang, tapi lazimnya merujuk pada manusia: orang yang bukan lagi anak-anak dan telah menjadi pria atau wanita dewasa. Kedewasaan dapat didefinisikan dari aspek biologi, hukum, karakter pribadi, atau status sosial. Berbagai aspek kedewasaan ini sering tidak konsisten dan kontradiktif.

Seseorang dapat saja dewasa secara biologis, dan memiliki karakteristik perilaku dewasa, tapi tetap diperlakukan sebagai anak kecil jika berada di bawah umur. Dewasa secara hukum, sebaliknya, seseorang dapat secara legal dianggap dewasa, tapi tidak memiliki kematangan dan tanggung jawab yang mencerminkan karakter dewasa. Dari definisi di atas dapat kita simpulkan beberapa poin penting, bahwa pengertian dewasa berhubungan dengan dewasa dalam arti biologis, dewasa dalam arti hukum, dewasa dalam status sosial serta dewasa ditinjau dari karakteristik kepribadian . Dalam hal ini yang akan kita tekankan adalah bagaimana dewasa ditinjau dari segi karakteristik pribadi.

Sebelum mengetahui bagaimana karakteristik pribadi atau kepribadian seorang dewasa, agaknya kita juga perlu lebih dulu mengetahui, apa sebenarnya yang dimaksud dengan kepribadian?

Kepribadian sendiri menurut definisi dapat diartikan sebagai totalitas sifat emosional dan perilaku yang menandai kehidupan seseorang yang sehari-hari dan relatif stabil. Dapat juga diartikan sebagai corak kebiasaan yang terhimpun pada diri seseorang yang berbeda (sejak dalam kandungan hingga terlihat saat lahir) antara individu yang satu dengan yang lain, dipakai untuk penyesuaian rangsangan (dari luar, dalam) dan merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas. Kesatuan fungsional ini meliputi persepsi, cara mengadakan hubungan dan cara berpikir tentang lingkungan dan diri sendiri.

Kepribadian dalam diri individu, baik ataupun buruk, dibentuk oleh beberapa faktor. Menurut Roucek dan Warren, terdapat tiga faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadian seorang individu, yaitu faktor biologis/fisik, psikologi/kejiwaan, dan sosiologi/lingkungan. Faktor biologis/fisik adalah suatu faktor yang timbul secara lahiriah di dalam diri seorang individu. Contoh, seseorang yang dilahirkan dengan cacat fisik atau penampilannya kurang ideal, pasti ia akan rendah diri, pemalu, sukar bergaul, dan sifat minder lainnya, ataupun sebaliknya. Faktor psikologi/kejiwaan, adalah suatu faktor yang membentuk suatu kepribadian yang ditunjang dari berbagai watak, seperti, pemarah, pemalu, agresif, dan lain-lain. Contoh, temperamen pemarah jika dipaksa atau didesak untuk melakukan sasuatu yang tidak ia sukai, maka akan memuncak amarahnya. Sedangkan faktor sosiologi/lingkungan, adalah suatu faktor yang membentuk kepribadian seorang individu sesuai dengan kenyataan yang nampak pada kehidupan kelompok atau lingkungan masyarakat sekitarnya tempat ia berpijak. Contoh, seseorang yang lahir di lingkungan yang penuh solidaritas, pasti orang tersebut akan mempunyai afiliasi kepribadian solider atau sikap pengertian terhadap sesama.

Ada pepatah mengatakan, “Jika kita hidup di kehidupan yang nyata dan jika menyelaminya pasti akan terbawa arus”. Jadi, jika seseorang hidup dalam beberapa faktor pendukung pembentukan kepribadian tersebut, baik faktor tersebut memenuhi syarat maupun tidak, pasti sangat berdampak pada terbentuknya kepribadian individu tersebut.

 

Karakteristik pribadi orang dewasa

Mary Johnston merumuskan, setidaknya ada 10 karakteristik orang dewasa yang bisa kita pahami disini:

  1. Orang dewasa mempunyai pengalaman-pengalaman yang berbeda.
  2. Orang dewasa yang hidupnya “miskin” tujuan, merasa bahwa dia tidak dapat menentukan kehidupannya sendiri.
  3. Orang dewasa lebih suka menerima saran-saran daripada digurui.
  4. Orang dewasa lebih memberi perhatian pada hal-hal yang menarik bagi dia dan menjadi kebutuhannya.
  5. Orang dewasa lebih suka dihargai daripada diberi hukuman atau disalahkan.
  6. Orang dewasa yang pendidikan formalnya lebih rendah atau bahkan pernah putus sekolah, mempunyai kecenderungan untuk menilai lebih rendah terhadap kemampuan belajarnya.
  7. Apa yang biasa dilakukan orang dewasa, menunjukkan tahap pemahamannya.
  8. Orang dewasa secara sengaja mengulang hal yang sama.
  9. Orang dewasa suka diperlakukan dengan kesungguhan itikad yang baik, adil dan masuk akal.
  10. Orang dewasa menyenangi hal-hal yang praktis.

Selain itu ada beberapa karakteristik orang dewasa yang saya dapatkan dari materi tentang “Andragogi” pada sebuah training motivasi yang saya ikuti. Bahwa orang dewasa adalah orang yang selalu berpikir, tidak hanya seperti botol kosong yang hanya menerima, tapi mampu berpikir ketika diberikan suatu masalah. Orang dewasa belajar banyak dari pengalaman. Dan orang dewasa memiliki karakter yang ingin selalu dihargai.

 

Menerapkan Pola Pikir Dewasa pada Anak-anak

Membentuk pola pikir cerdas dan kreatif pada anak, bukanlah hal yang mudah, karena dibutuhkan kesabaran dan latihan secara rutin. Anak yang baru lahir pada hakekatnya masih suci, belum ternoda , sehingga segala perilaku, kecerdasan, ketangkasan dalam menyelesaikan masalah, rasa empati pada sesama, kesabaran dan segala ucapannya terbentuk karena peranan orang tua, lingkungan, kebiasaan, apa yang sering didengar dan dilihatnya. Karakteristik anak adalah meniru dari apa yang mereka terima lewat inderanya, baik itu dari apa yang ia lihat, ia saksikan, ia dengar dan ia rasakan.

Daya tangkap mereka masih sangat dipengaruhi oleh adanya imajinasi dan sangat minim menggunakan daya pikir, sehingga mereka belum bisa membedakan perilaku yang berdasar pada kenyataan atau imajinasi dan yang benar atau salah. Sementara di lain pihak, pembentukan pribadi anak sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan, diantaranya adalah media. Media mempunyai pengaruh yang sangat kuat dalam pembentukan kognisi seseorang. Media memberikan informasi dan pengetahuan yang pada akhirnya dapat membentuk persepsi.

Penelitian menunjukan bahwa persepsi mempengaruhi sikap (attitude) dan perilaku seseorang. Kognisi adalah semua proses yang terjadi di pikiran kita yaitu, melihat, mengamati, mengingat, mempersepsikan sesuatu, membayangkan sesuatu, berfikir, menduga, menilai, mempertimbangkan dan memperkirakan. Namun, bagaimana dengan kenyataan yang ada di sekitar kita? Apakah media sudah memenuhi fungsi sejatinya? Bagaimana dengan keadaan lingkungan sekitar, apakah sudah kondusif dalam mendukung perkembangan pribadi anak? Oleh karena itu, sangatlah penting peran orang tua dalam mendidik dan mengawasi anak-anak mereka. Orang tua seharusnya dapat berperan sebagai sensor yang dapat membatasi anak untuk tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aturan, tapi bukan berarti membatasi semua tingkah laku dan ekspresi anak. Dan tentunya sebagai orang tua harus dapat memberikan suatu contoh dan teladan yang santun pada anak. Dalam hal mendidik tersebut, sangat dibutuhkan adanya suatu cara dan trik yang jitu untuk dapat terbentuk kepribadian seorang anak yang baik, diantaranya adalah dengan penanaman pola pikir dewasa.

Apa urgensi dari penanaman pola pikir dewasa pada anak-anak?

Banyak dari kita melihat kenyataan saat ini, betapa mudahnya seorang anak mengadopsi dan menirukan apa yang mereka dapat dari tontonan di televisi. Sempat membuat saya heran ketika pertama kali mendengar anak-anak kecil yang tengah bermain bersama, mereka menyanyikan lagu dari salah satu group band yang seharusnya lagu itu belum pantas dinyanyikan oleh mereka. Tapi ternyata setelah saya tahu itu bukanlah suatu hal yang aneh, bahkan sudah menjadi hal yang biasa. Anak-anak sekarang justru tidak kenal dengan lagu anak-anak karangan Ibu Sud misalnya, yang meskipun sederhana tapi sarat dengan makna. Itu hanya sekelumit contoh kecil, yang mungkin tidak pernah dipedulikan oleh masyarakat, karena dianggap sebagai hal yang biasa. Namun pernahkah kita berpikir bahwa justru dari hal-hal kecil yang salah itulah natinya dapat memicu perkembangan menjadi suatu kesalahan yang lebih besar?

Penerapan pola pikir dewasa yang dimaksud di sini adalah dengan menerapkan beberapa karakteristik berpikir orang dewasa yang sesuai untuk ditanamkan, diajarkan dan dilatih pada anak-anak.

Pertama, karakter orang dewasa adalah menggunakan akal dan logika untuk berpikir. Dari sini dapat kita terapkan, anak sedikit demi sedikit dilatih untuk mulai menggunakan akal dan pikirannya untuk dapat memilih dan membedakan mana yang benar dan mana yang salah, mana yang seharusnya patut mereka tiru dan mana yang tidak. Karena secara alamiah, karakteristik belajar seorang anak adalah dengan meniru sesuatu yang diterima oleh inderanya tanpa dapat berpikir lebih luas apa efek, apa manfaatnya dan apa pengaruh buruknya. Mereka hanya menerima dan melakukan. Nah, dengan diajarkannya pola pikir dewasa pada anak-anak diharapkan mereka dapat memilah sesuatu dan dilatih untuk dapat berpikir kritis terhadap sesuatu. Sebagai contoh kecil, ketika menonton sinetron, seorang anak diajarkan, apakah sinetron di televisi itu baik? Dan bandingkan dengan alternatif tontonan lain, film atau video tentang kisah perjalanan para sahabat nabi misalnya yang tak kalah menarik dengan sinetron, tapi memiliki nilai lebih dalam ilmu dan lebih mendidik. Demikian halnya ketika memilih permainan, kenalkan dan ajarkan sesuatu pada anak hal yang memiliki esensi dan fungsi. Seorang anak seyogyanya dilatih untuk tahu manfaat dan kerugian dari apa yang akan dilakukan serta dengan menjelaskan alasan-alasan yang logis yang mendasari. Sehingga dengan demikian dari kecil seorang anak sudah terlatih untuk dapat membedakan, mana sesuatu yang baik dan mana yang tidak dan dalam melakukan suatu hal.

Karakter orang dewasa berikutnya adalah ingin dihargai. Penerapan hal ini pada anak-anak juga sangatlah penting dalam membentuk psikis dan mental seorang anak. Hargai segala apa yang dilakukan anak. Jangan pernah mengkritik apa yang dilakukan seorang anak, tapi berikanlah suatu saran positif yang membangun dan ajarkan apa yang bagaimana seharusnya yang benar ketika ia melakukan kesalahan. Dari sini ia juga akan belajar untuk tidak mengulang kesalahan dari pengalaman seperti karakteristik orang dewasa yang belajar banyak dari pengalaman yang telah dialami. Selain itu anak diajarkan bagaimana cara untuk selalu menghargai orang lain, karena seperti suatu hukum timbal balik, jika ingin dihargai oleh orang lain, maka kita harus menghargai orang lain.

Karakter selanjutnya, seorang dewasa adalah seorang yang mandiri. Sikap mandiri ini perlu ditanamkan pada anak sejak dari kecil. Mandiri di sini bukan berarti bisa mencukupi nafkah sendiri, tentu saja tidak! Melatih sikap mandiri pada anak adalah mengajarkan pada mereka untuk tidak selalu menggantungkan sesuatu pada orang lain. Jika mereka bisa melakukan suatu hal sendiri, maka lakukanlah! Sebagai contoh, merapikan mainan atau meja belajar. Ajarkan mereka untuk dapat melakukannya sendiri tanpa bantuan orang lain, bagaimana pun itu hasilnya. Adanya pembiasaan ini akan membentuk suatu kebiasaan. Sebagai contoh lain, saya cukup salut dengan ibu saya yang secara tidak langsung mengajarkan anaknya untuk mandiri, dan itu baru saya rasakan saat saya besar kini. Dulu ketika saya kecil, setiap kali meminta sesuatu, ibu selalu menyuruh saya untuk menabung lebih dulu, meskipun nanti akhirnya uang dominan yang digunakan adalah uang orang tua. Seperti saat membei jam tangan misalnya, harga jam empat puluh ribu, dan ternyata saya hanya berhasil menabung sepuluh ribu, ya akhirnya yang tombok tiga puluh ribu itu orang tua juga! Hal itu juga diterapkan pada adik saya kini. Saat ia ingin dibelikan komputer, ibu menyuruhnya untuk menabung lebih dulu. Adik saya berhasil mengumpulkan kurang lebih satu juta dari uang beasiswa yang ia dapat di sekolah dan dari tabungan hasil menyisihkan uang jajannya. Dan tentunya total kekurangan dari harga komputer yang dibeli, orang tua juga yang membayarnya. Tapi paling tidak itu melatih agar tidak manja, intinya bahwa kita juga harus berusaha ketika menginginkan sesuatu, jadi tidak hanya langsung meminta dan menadah!

Dengan adanya kebiasaan dan mind set  yang telah tertanam sejak kecil tentunya akan sangat mempengaruhi pola pikir dan perilaku pada masa dimana usianya semakin bertambah nanti. Memang tidak mudah menanamkan pola pikir tersebut, butuh adanya proses yang bertahap, adanya kesabaran dan ketelatenan untuk dapat mencapai hasil yang maksimal karena tidak ada suatu hal yang instant. 

Dari sini dapat kita simpulkan, bahwa dewasa dini tidak selalu negatif. Anak yang telah terlatih memiliki pola pikir dewasa sejak dini, akan dapat membawa sifatnya itu sampai besar nanti, sampai terbentuk suatu kepribadian yang stabil saat usia 18 tahun, usia dimana kepribadian pasti terbentuk menurut ilmu psikiatri. Jadi, benar bukan? Dewasa dini adalah suatu pilihan yang cerdas untuk pengembangan kepribadian anak!

 

Ditulis oleh Catharina Endah Wulandari

3 thoughts on “Dewasa Dini Menjadi Pilihan Cerdas Bagi Perkembangan Kepribadiaan Anak

  1. Subhanallah..pemikiran yang kompleks mengenai definisi dari ‘Dewasa’.
    Kalo menurut An, meskipun udah gedhe, tambah usia, tapi perilaku dan jiwanya masih unyu-unyu alias masih kekanakan,
    perlu diwaspadai saat menghadapi sebuah masalah ^_____^

    makasii sharingnya, Aan

  2. Ping-balik: Dewasa Sejak Usia Belia, Sebuah Pilihan Atau Bencana? | Jejak Parmantos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s