Bagaimana Mengembangkan Karakter Dalam Novel dan Cerpen?

Dalam karya fiksi yaitu cerpen dan novel pasti memiliki unsur instrinsik yang disebut dengan penokohan atau karakteristik dari tokoh. Karakterisasi merupakan salah satu unsur dalam membangun sebuah karya fiksi, baik itu cerpen atau novel. Pembuatan karakter tokoh yang baik akan menjadi salah satu penentu kualitas dari karya fiksi tersebut.

Bagaimana membangun karakter tokoh cerita yang baik? Berikut adalah beberapa di tips dan trik, antaranya:

1. Melalui ucapan-ucapan si tokoh
Ucapan si tokoh dalam menggambarkan karakternya. Orang yang sopan tentu berbeda cara ngomongnya dengan orang yang bengal. Orang pemarah tentu beda cara ngomongnya dengan orang yang penyabar. Demikian seterusnya.

2. Melalui pemberian nama
Dalam kehidupan nyata, nama seseorang memang tidak identik dengan sifat dan perilaku orang tersebut. Tapi dalam dunia fiksi, kita bisa memberikan nama-nama tertentu untuk memberikan kesan karakter yang berbeda-beda. Misalnya, nama Dewi cenderung berkesan anggun dan keibuan. Sedangkan nama Susan cenderung berkesan centil dan genit.Pemberian nama juga hendaknya disesuaikan dengan setting cerita dan karakter etnis dari tokoh tersebut. Misalnya, aneh rasanya jika anda menceritakan seorang tokoh yang beragama kristen, tapi dia bernama Abdullah. Atau anda menceritakan tentang seorang tokoh yang ber-etnis sunda, dan sejak lahir hingga dewasa tinggal di Sukabumi, tapi dia bernama Michael. Kalaupun anda harus memberikan nama yang seperti itu, hendaknya anda memberikan penjelasan yang memadai mengenai hal itu (mengapa orang sunda yang sejak lahir tinggal di Sukabumi bisa punya nama Michael, dan sebagainya)

3. Melalui diskripsi yang disampaikan oleh si penulis
Ini adalah cara yang cukup umum dan gampang. Contohnya: “Wina adalah gadis yang amat penyabar, ia selalu memulai ucapannya dengan senyuman.”

4. Melalui pendapat tokoh-tokoh lainnya di dalam karya tersebut
Contoh:
Nia berkata, “Joko itu pelit banget deh. Masa udah ketahuan di dompetnya banyak duit, dia masih bela-belian ngaku lagi bokek!”

5. Melalui sikap atau reaksi si tokoh terhadap kejadian tertentu
Contoh:
Ketika seorang anak memecahkan gelas, apa yang dilakukan ibunya? Dalam hal ini, kita harus merumuskan dulu secara jelas, bagaimana karakter si ibu. Apakah dia pemarah, penyabar, suka mencaci-maki, dan sebagainya.Jika yang kita ceritakan adalah seorang ibu yang penyabar dan penuh pengertian, maka kita tentu tidak akan membuat kalimat yang menceritakan bahwa si ibu marah besar lalu memaki-maki anaknya.

6. Atau cara-cara lain yang bisa memperkuat karakter seorang tokoh.

Tak ada salahnya jika anda memperkuat karakter seorang tokoh dengan “menempeli” dirinya dengan hal-hal unik. Misalnya: Dulu saya pernah menulis sebuah karya fiksi, yang di dalamnya terdapat tokoh Doni yang setiap omongannya selalu diakhiri dengan kata “kok” (walau kok-nya itu tidak pas). Misalnya:
“Loe habis dari mana, kok?”
“Emang, kok. Dia memang suka gitu, kok. Gue aja ampe heran, kok.”

CATATAN:
Jangan sekali-lagi merusak karakter tokoh dengan hal-hal yang kontradiktif. Misalnya: Anda menceritakan tentang tokoh Ali yang penyabar dan selalu santun dalam bicara. Namun dalam sebuah bagian cerita, Anda membuat kalimat seperti ini:

Ali sangat terkejut mendengar cerita Hasan. Dadanya bergemuruh, mukanya merah, dan ia menatap Hasan penuh kebencian. “Bajingan loe!” teriaknya dengan kasar.

Memang, kadang-kadang manusia bisa melakukan sesuatu yang tidak sejalan dengan karakternya. Jika ini terjadi, anda pun harus menjelaskannya dengan gamblang. Misalnya, “Ali marah besar karena ia sudah kehilangan batas kesabaran. Lagipula hari itu dia sedang stres berat.”

Yang terpenting dalam mengembangkan karakter adalah tidak menoton. sebisa mungkin kita variatif. banyak pula yang mengatakan bahwa karakter seseorang baiknya tidak ditulis secara deskripti tapi melaui cara-cara lain yang telah dibahas di atas tadi. Selamat Mencoba!

sumber: Jonru dengan sedikit editan

17 thoughts on “Bagaimana Mengembangkan Karakter Dalam Novel dan Cerpen?

    • sama juga untuk mengembangkan karakternya, yg dibahas disini adalah karakternya, jadi untuk unsur2 yang lain sambil baca tulisan2 lain, belum sempat posting, hehe,,,oke2 kapan2 saya postingin ya,

  1. Saya sering bingung apakah lebih baik menulis sebagai pelakon (aku/saya) atau pencerita. Atau lebih baik kombinasi, kadang sbg aku, kadang sbg pencerita.

    • itu permainan sudut pandang, kelemahan menggunakan aku adalah kita tidak bisa menceritakan situasi lain secara bersamaan secara kita disini adalah pelaku. lagi-lagi itu adalah selera. kelebihan kita menjadi pencerita adalah imajinasi kita tak terbatasi. lebih mudah mengeksplore cerita🙂

  2. ka, banyakin donk materi tentang tips-tips menulisnya. aku cari di fanfage sekolah penulis ga nemu🙂.

  3. Ping-balik: Kamis Nulis: Karakter | Moco -ism

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s