Moga Bunda Disayang Allah

Teruntuk bunda tersayang,
Bunda apa kabar bunda di rumah? Mudah-mudahan engkau tetap dalam kasih sayang Allah. Mudah-mudahan engkau masih mendoakanku (dan tentunya keluarga kita) . Dan semoga engkau selalu dalam keadaan baik. Aamiin ya Rabb.

Bunda aku ingin bercerita dengan bunda, kangen rasanya belum bercakap-cakap lagi denganmu, Kangen rasanya beberapa hari ini aku belum mengadu denganmu. Aku belum bercerita tentangku. Aku belum bercerita aktivitasku. Aku rindu ditanya bunda, bagaimana kabarnya? Bagaimana pekerjaanya? sudah makan apa belum? Pokoknya aku rindu bunda, Rindu. Sungguh sangat rindu. Ah biarlah mereka berkata apa. Aku hanya ingin bilang ke bunda, aku sangat mencintai bunda. Aku sangat menyayangi bunda. Dan Aku sangat rindu pada bunda. Sangat, sangat, dan sangat rindu sekali. walaupun aku belum pernah mengatakanya langsung pada bunda (seperti Delisa kecil itu), tapi aku sungguh sangat mencintaimu bunda. Seperti kau mencintai kami, engkau tak pernah mengatakanya pada kami. Tapi aku bisa merasakan hangatnya cintamu, aku bisa merasakan hangatnya kasih sayangmu, bunda.

Bunda ternyata menjadi dewasa tidaklah mudah. Dulu waktu kecil, aku selalu berfikir, kapan aku besar ya, biar bebas, biar gak dimarahin bunda. Ah ternyata dewasa tidak mudah bunda, semua harus ditentukan, semua harus dipertanggungjawabkan. Tentu ini bukanlah hal yang mudah. Tak semudah seperti membalik telapak tangan. Tak semudah seperti saat waktu aku masih kecil, merengek-rengek dibelikan mobil-mobilan. Semua sungguh ada konsekuensinya. Aku harus bertanggungjawab atas semua pilihan-pilihanku. Ah tentunya pilihan-pilihan tentang masa depanku. Pilihan-pilihan yang membuat hati kadang terhanyut dalam kebimbangan.

Bunda terima kasih telah memarahiku. Terima kasih telah menjewer telingaku, (ya walaupun sakit sebenarnya). Teringat olehku, waktu kecil, saat engkau selalu marah padaku jika buah hatimu ini tak berangkat mengaji. Engkau selalu marah dan aku sangat takut jika bunda sudah marah-marah. Dulu, saat kecil, aku tak tau maksud bunda apa. Ah sekarang aku sudah tau mengapa engkau selalu marah jika engkau tau aku tak berangkat ke mushola untuk belajar mengaji. Terima kasih bunda, sekarang aku sudah bisa mengaji. Sekarang aku bisa mendoakan bunda dengan bacaan-bacaan itu. Semoga aku selalu teringat mendoakanmu bunda. Mendoakan bunda dalam setiap rinay hujan airmataku. Menyapa namamu dalam sujud-sujudku pada-Nya. memohon persetujuan kebaikan dari kasih saying-Nya. Semoga aku bisa menjadi anak yang sholeh, bunda.

Bunda, Bundaku yang tulus hatinya, yang bening relung hatinya, ajari aku tentang arti tulus dan ikhlas. Ajarkan aku bunda. Ternyata tulus itu sangat susah bunda. Ternyata menjadi pribadi penuh ikhlas itu sangat susah. Tapi berbeda dengan engkau bunda, engkau telah membesarkan anakmu ini sampai dititik terbaik. Engkau telah habiskan semua waktumu, tenagamu, kasih sayangmu hingga aku bisa menyelesaikan pendidikanku. Hingga aku bisa “mengenal” Tuhanku, hingga aku bisa membaca kitab agamaku. Engkau lakukan dengan penuh tulus tanpa meminta imbalan sedikitpun. Engkau begitu ikhlas memberikan segalanya demi buah hati tercinta ini. Ah sementara aku belum bisa berbuat banyak untuk bunda. Jangankan menghantarkan bunda ke mekah sana, menghantarkan ke masjidil haram sana, ah membelikan sebuah jilbab barupun aku belum pernah.

Bunda, tak terasa waktu berlari begitu cepat. Tak terasa engkau pun semakin menua. Aku sendiri telah beranjak dewasa. Apalagi umur bunda? Tentunya dua kali lipat lebih dari umurku saat ini. kasih sayang bunda sama seperti waktu yang berputar. Waktu tak akan pernah berhenti, ia akan terus berputar, sama seperti bunda. Hingga detak ini, hingga detik ini, kasih sayangmu tak pernah berhenti dan tak pernah luntur. Terus berjalan dan berputar untuk anak-anakmu. Aku takut, sangat takut sekali bunda. Karna engakau semakin menua, ketakutan melihat kerut diwajah bunda yang kian rata, ketakutan melihat bunda yang mulai jatuh sakit. Walaupun (lagi-lagi) engkau menerimanya dengan senyuman, engkau menerimanya dengan ketabahan. Engkau tak pernah mengeluh, tak pernah memberi tahu kesakitanmu. Engkau hanya diam. Engkau tak meminta diperhatikan olehku. Sedangkan aku? Aku selalu ingin diperhatikan saat aku sakit. Aku selalu mencari perhatian untuk dikasihani. Aku kangen bunda saat merebahkanku saat sakit. Kau menghangatkan aku dengan selimut dengan tatapan sendumu. Hingga engkau menyuapiku dengan penuh kasih sayang. Ah aku rindu saat-saat itu bunda.

Bunda, aku tahu engkau tak pernah terbebas dari keluhan-keluhan anakmu ini. entah kenapa setiap aku mengadu denganmu semua terasa plong, tak ada beban, semua terasa ringan, meskipun kadang mungkin kau tak tau solusi apa yang akan engkau berikan. Tapi subhanallah terbuat dari apakah hatimu bunda? Setiap pesanmu menenangkan, setiap senyumanmu menghangatkan, dan setiap tatapanmu penuh kasih sayang. Inikah kenapa surga ada di telapak kakimu? Engkau memang muara hati. Engkau pelipur lara setiap kelah-kesuhku. Bundaku yang tak pernah lelah melangkah, yang tak pernah mengeluhkan masalah-masalahmu. Sungguh aku ingin sekali membuatmu bahagia. Aku ingin melihat engkau tersenyum syukur atas perjuangan jerih payah buah hatimu ini. aku ingin engkau menikmati hari tuamu. Beristirahat dan menikmati waktu-waktu luangmu. Menikmati waktu-waktu indahmu tanpa keluhan-keluhanku. Berkumpul dalam canda tawa dengan anak-anakmu, dan tentunya dengan kekasihmu yang sangat sayang denganmu, Ayah.

Ya Rabb, ampunilah dosa kedua orang tuaku. Bundaku, bundaku, dan bundaku ampunilah segala dosa dan kekhilafanya, serta leburkanlah dosa Ayahku yang begitu sayang menyayangi kami. Ya Tuhanku, Allah Aza Wa Jalla, satukan kami dalam ikatan cinta-Mu. Jadikan kami keluarga yang pandai bersyukur. Pandai bermunajat pada-Mu. Hingga Engkau kumpulkan kami dalam keluarga yang kekal. Keluarga yang berkumpul dalam Syurga-Mu. Hanya pada-Mu kami menyampaikan doaku dan hanya pada-Mu kami berserah diri.

Tuturmu laksana tanda petunjuk arah
Jelas tanpa kabur
Berjalan ku diantara tanda-tanda itu
Kini ku temui sebongkah gunung harapan
Sebongkah cita dan cinta yang kau impikan
Aku temukan itu, bunda…

Bunda, tanpamu aku merasa lemah
Tanpamu aku merasa salah
Maka tetaplah menatapku
Agar engkau selalu menguntaikan doamu
Tetaplah menatapku
Agar engkau selalu menasihatiku
Tetaplah menatapku
Agar engkau bisa tersenyum bangga dengan buah hatimu

Di hamparan sajadah cintaku ku sampaikan
Menetes merembas penuh haru
Mengalir doa penuh takjub
Merangkai proposal cinta kebaikan kepada-Nya
Moga Bunda di Sayang Allah

“Jika Allah izinkan hanya ada satu doa di dunia ini, maka aku ingin berdoa, Moga Bunda di sayang Allah”

Dalam dekapan cinta, teruntuk wanita yang tercinta, Bunda.
나는 어머니를 사랑해요 ^_^

11 thoughts on “Moga Bunda Disayang Allah

  1. jadi inget novelnya Pak Darwis🙂. Hehe. ta fikir resensinya..

    dan biarkan do’a berpilin indah ke langit lalu didengar oleh penghuninya, untuk bunda..Bunda, sayang engkau karena Alloh🙂

      • ^_^
        sip sip
        kalo novel yang moga bunda disayang Alloh itu, mirip cerita Hellen Keller. Dulu waktu SMP udah pernah baca novelnya Hellen Keller. Jadi pas baca cerita itu, udah tau endingnya akan seperti apa. Tapi.. Pak Darwis bikin banyak bikin kejutan dan perbedaan cerita. Jadi ya, tetep menari🙂
        kalo kata2 saya yang “Bunda, sayang engkau karena Alloh..” itu juga dr novel pak darwis yang Hafalan Sholat Delisa.hehe

  2. Iya pnah baca novel judulnya sperti itu. Bunda..sosok yang pasti istimewa d mata buah hatinya karena ketulusan keikhlasan cinta kasihnya,tak tertandingi oleh siapapun..
    sangat bersyukur memilikinya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s