Selamat Datang di Kampus Impian Baru; UGM!

HASIL

Nomor Pendaftaran : 12811517
Nama : Aan Setyawan
Nilai AcEPTKonversiNilai PAPs :: 493556
Fakultas : ILMU BUDAYA
Program Studi : ILMU LINGUISTIK
Jalur : S2 Pelamar Beasiswa Unggulan Dikti
Pengumuman : Selamat, Saudara lolos secara akademik.Penetapan penerima Beasiswa Unggulan (BU) dan BPPS menunggu keputusan DIKTI.Jadwal Registrasi Saudara tanggal 07-08-2012 di Gedung Direktorat Administrasi Akademik, Jl. Pancasila, Bulaksumur, Yogyakarta 55281.

Nomor Pendaftaran:12811517Nama:Aan Setyawan Nilai AcEPT Konversi:493Nilai PAPs:556

Demi Kuliah di Universitas Idaman; Aku Memboncengkan Akhwat Bukan Makhrom!

Pertanyaan pertama saya adalah apa yang teman-teman pikirkan setelah membaca judul di atas? Bolehlah apa saja, mari kita simak salah satu ceritaku (pengalaman asli). Mudah-mudahan bisa diambil ibrohnya. Silahkan dibaca sampai tuntas. Jangan lupa siapkan tisu barangkali mau nangis. Barangkali mau istighfar sebanyak-banyaknya. Jika puasa batal saya tidak ikut bertanggung jawab.

Hmmm… Ambil nafas..keluarkan phuuuuss…

karena ini cerita maka saya pakai bahasa cerita hehe..siap? ready?

1

2

3

Waktu itu di bulan Mei aku mendaftar studi kuliahku S2 Di UGM. Nah temen-temen tau lah banyak syarat dan berkas yang harus dipersiapkan ketika mendaftar kayak ginian. Dari fotokopi ijazah, transkip nilai, surat rekomendasi, rencana studi, dan surat keterangan kesehatan serta lain-lain tetek bengeknya yg cukup menguras banyak energi, waktu, dan kesabaran. Nah aku mau cerita saat mengurus surat keterangan kesehatan di Puskesmas. Kejadian yang menghancurkan harga diriku huhu..Dari sinilah kejadian unik ini akhirnya aku beranikan untuk dibagi kepada teman-teman. Mau tau ceritanya? Yuk ganti paragraf dulu J

Rabu itu pagi masih terselimuti embun. Mentari masih malu keluar dari dalam langit. Awan terlihat tak secerah seperti wajahku yang tak terbungkus senyum. Hanya sesekali dengkuran burung dara meramaikan pagi. Initine kejaidan ini terjdadi pagi-pagi hehe…lanjut!

Jam sembilan pagi aku berangkat ke Puskesmas di Tembalang, Semarang. Saat sampai di Puskesmas ternyata sudah banyak bapak-ibu, kakek-nenek, dan anak-anak yang sedang mengantri. Ramai. Panas. Sumpeg. Aku pun menemui petugas kesehatan yang berjaga disitu. Ternyata kata ibu pegawai tersebut tes kesehatanya baru bisa jam sepuluh siang nanti. Alasanya karena petugas yang mengurus tes kesehatan datangnya baru jam sepuluh (dasar PNS hehe..)

Sebenarnya aku paling males datang ke tempat yang berbau obat. Rasanya badan jadi lemas semua. Apalagi kalau melihat darah dan suntik. Wew. Gak kuat. Makanya Ahamdulillah aku gak pernah masuk ke rumah sakit karena sakit selama ini. Tapi ya sudah dinikmati saja menunggu sambil menghirup bau obat di Puskesmas huhu..

Nah pas aku sedang duduk menunggu ada seorang akhwat (wanita) yang duduk di sebelahku. Dia menyapa duluan. Ya mungkin karena kepribadianya ekstrovet yang sangat terbuka dalam bergaul, sedangkan kepribadianku introvet. Jadi sifat dasarku sebenarnya seorang pemalu apalagi di tempat yang asing tak dikenal.

Wanita                 :     masnya kerja atau kuliah?

Aku                       :     kerja,

Wanita                 :     kerja dimana?

Aku                       :     ngajar

Wanita                 :     ohh,, rumahnya dimana?

Aku                       :     di Meteseh perumahan Dinar Mas,

Wanita                 :     oh sama berarti, saya juga di meteseh

Begitulah kurang lebih awal percakapanku dengan si akhwat tersebut. Selanjutnya kita bercerita banyak, termasuk maksud dan tujuan kenapa sekarang di Puskesmas. Intinya akhwat tersebut minta dianterin ke rumahnya di Meteseh. Alasanya karena gak tau cara pulangnya gimana dan gak mungkin jalan kaki. Aku sebenarnya bingung tujuh keliling. Pertama bingung masalah memboncengkan wanita tersebut. Karena aku belum pernah memboncengkan wanita yg bukan makhrom dari lahir, dari dulu. Suer!!! Apalagi setelah kuliah aku rajin mentoring (ngaji) jadi lebih paham dan Takut dosa hehe..

Dari Ma’qil bin Yasar dari Nabi s.a.w., beliau bersabda, “Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang di antara kamu dengan jarum besi itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR Thabrani dan Baihaqi)

Jadi ini adalah yang pertama kalinya mboncengin yang bukan makhrom huhu… Dasar akhwat menggoda keimananku :p Dan Sebenarnya aku punya mimpi wanita yg sebelumnya bukan makhrom yang pertama kali aku boncengkan adalah istriku kelak!

Alasan kedua adalah, aku sudah menunggu hampir jam sepuluh, nah kalau aku pergi dan mengantarkan akhwat tersebut maka nomer antrianku akan jadi lama. Karena iba dan kasihan akhirnya aku boncengkan akhwat tersebut, serrrrr :p

Nah, karena aku sangat jarang memboncengkan wanita (kecuali keluargaku) maka aku sangat hati-hati. Pelan-pelan sekali. Yang biasanya kecepatan 60 berkurang jadi separohnya. Ya demi keselamatan. Hatikupun penuh deg-degan karena yang aku boncengin adalah seorang akhwat yang bukan makhrom. Uhuk-uhuk hehe…

Sampailah pada depan rumahnya, setelah menempuh perjalanan sekitar 15 menitan. Akhwat tersebut pun turun dari motorku dan mengucapkan banyak terima kasih padaku.

“Mak matur suwun ya, mudah-mudahan kerjanya sukses, cita-citanya terkabulkan, sekolahnya lancar, rezekinya lancar,  dimudahkan segala urusanya sama Allah. Hati-hati nak ya..”

“iiya mbah, mboten nopo-nopo, njih sampun kulo pamit rihin mbah, bade teng puskesmas malih”

(terjemahan: iya nek, tidak apa-apa, sma-sama, saya pamit dulu ya, mau ke puskesmas lagi)

Betul sekali. Wanita yang aku boncengin adalah seorang nenek hehe…yang sudah tua dengan rambutnya yang telah putih. Mungkin umurnya diatas 60 tahunan. Jadi Maaf ya bukan akhwat muda yang aku boncengin hehehe… jad siapa? Nenek-nenek yang aku boncengin ahaha!

Nah kemarin-kemarin gak sengaja Blogging nemu hadist tentang Kebolehan kita memboncengkan perempuan yang bukan mahram, yaitu apabila kita menjumpai di suatu tempat di jalan, sedang dia tidak sanggup berjalan lagi khususnya apabila kita bersama-sama dengan orang lain. Seperti nenek diatas yang sudah tua renta tak diurus oleh anak-anaknya. Akupun jadi merenung nenek sudah tua kok pergi ke puskesmas sendirian tak ditemani oleh anaknya? Dasar anak zaman sekarang, mudah-mudahan kita tidak demikian ya teman-teman. Aamiin.

Hadis riwayat Asma binti Abu Bakar ra., ia berkata:

Zubair mengawiniku sedangkan ia tidak memiliki harta atau hamba sahaya atau apapun kecuali kudanya. Akulah yang memberi makan kudanya, mencukupi bahan makanannya, mengurusnya, menumbukkan biji bagi hewan penyiramnya, memberinya makan, memberi minum, menjahitkan timbanya dan membuatkan adonan rotinya. Tetapi, aku tidak pandai membuat roti karena itu wanita Ansar tetanggakulah yang membuatkan roti untukku. Mereka adalah para wanita yang jujur. Ia berkata: Aku biasa memindahkan biji kurma dari tanah Zubair yang diberikan Rasulullah saw. dengan memanggulnya di atas kepalaku yang berjarak kira-kira duapertiga farsakh (1 farsakh = 3 mil). Ia berkata lagi: Suatu hari aku datang membawa biji kurma di atas kepalaku lalu bertemu dengan Rasulullah saw. beserta beberapa orang sahabat. Beliau memanggilku, kemudian mengucap: Ikh, ikh (ucapan untuk menderumkan untanya). Beliau bermaksud memboncengku di belakangnya. Asma berkata: Aku merasa malu dan aku tahu kecemburuanmu. Zubair berkata: Demi Allah! Engkau memanggul biji kurma di atas kepala adalah lebih berat daripada engkau menunggang bersama beliau. Ia berkata: Sampai Abu Bakar ra. mengirimkan seorang pembantu yang mengambil alih pengurusan kuda, seakan-akan ia telah membebaskanku. (Shahih Muslim No.4050)

Hadist ini menjeaskan boleh memboncengkan wanita bukan makhrom yang telah kepayahan.

Alhamdulillah Doanya nenek terkabulkan, Alhamdulillah saat pengumuman S2 UGM, aku diterima! Jadi kalau temen-temen mau diijabahi keinginanya segera boncengin nenek-nenek ya hehe.. terima kasih telah membaca tulisan ini sampai selesai, Insya Allah mudah-mudahan akhwat muda yang sebelumnya non makhrom yang pertama nanti aku boncengin adalah istriku kelak, hehehe..aamiin, siapa dia? Wallahua’lam ^_^

Tips untuk mengejar PhD

Reblogged from Tio:

Click to visit the original post
  • Click to visit the original post

Menjadi doktor, mungkin itu sebuah angan bagi kebanyakan kita termasuk saya. Dahulu bisa lanjut ke jenjang Master saja, bagi saya sudah sebuah lompatan yang sangat jauh, apalagi jadi doktor tidak pernah terbersit dalam hati. Tapi berdasarkan pengalaman saya, semua orang bisa melanjutkan ke jenjang S3 (PhD/Doktor) jika memiliki keinginan yang kuat dan persiapan yang matang.

Untuk bisa melanjutkan study ke program doktor atau PhD, perlu beberapa “senjata” yang harus dipersiapkan.

Read more… 1.129 more words

Mau Gelar Ph.D? Baca Ini!

Aku Mencintaimu Karena Allah, Benarkah?

Mencintai karena Allah, Benarkah?

Tak bosan-bosanya saya membahas tema cinta. Selain banyak pelakunya tentu banyak juga korbanya karena ketidakpahamanya. Baiklah pasti teman-teman sering mendengar kalimat aku mencintaimu karena ALLAH. Betul? Benarkah kita mencintai karena Allah? Mari kita bahas sebenarnya apakah kita benar-benar mencintai karena Allah? Jangan-jangan kita berkata mencintai karena Allah tetapi sebenarnya tidak. Seperti yang dilakukan oleh Delisa kecil dalam Novel Hafalan Shalat Delisa yang mengatakan kepada uminya, “Umi, Delisa cinta umi karena Allah” padahal ia mengatakan itu karena ingin diberi cokelat oleh guru ngajinya.

Mencintai karena Allah berarti kita mencintai seseorang karena berlandaskan Allah. Karena kita berlandaskan kepada Allah maka kita mencintai apa yang diperintahkan oleh Allah kepada kita. Jika cinta kita karena Allah, hanya ingin mendapatkan Ridhlo-Nya maka Allahpun akan mencintai kita

“Sesungguhnya Allah SWT pada hari kiamat berfirman : “Dimanakah orang yang cinta mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan menaungi dengan menunggu-Ku dihari yang tiada naungan melainkan naungan-Ku” (H.R. Muslim)

Dalam sebuah hadist qudsi juga disebutkan;

Allah swt berfirman, “pasti akan mendapat cinta-Ku orang-orang yang cinta mencintai karena Aku, saling kunjung mengunjungi karena Aku dan saling memberi karena Aku”

Dalam kesempatan ini, pembahasan cinta difokuskan terhadap lawan jenis yang belum halal (belum kita nikahi ^_^)

Adapun beberapa ciri-ciri cinta karena Allah:

  1. Memilih mencintai seseorang karena Allah berarti ia memilih karena Allah, yaitu pilihlah agamanya.

Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Jika datang melamar kepadamu orang yang engkau ridho agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dengannya, jika kamu tidak menerimanya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang luas.” (HR. Tirmidzi, hasan)

Mungkin ada yang menyeletuk, Fatimah binti Muhammad, putri jelita Rasulullah pernah menolak lamaran sahabat-sahabat terbaik Rasulullah. Dia pernah menolak laki-laki yang baik agamanya. Bahkan tak hanya baik tapi sangat baik agama dan akhlaknya. Ya tentu kita boleh-boleh saja menolak. Pertanyaanya adalah apakah kita sudah sesholehah Fatimah Binti Muhammad yang pemahaman agamanya dan kesholehahnya langsung dibina oleh Rasulullah?  Tentu hadist tersebut dikelurkan oleh Rasulullah agar bisa menjadi pedoman bagi kita untuk memilih seseorang karena agamanya.

Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara yaitu karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka pilihlah olehmu wanita yang punya agama, engkau akan beruntung.” (HR. Al-Bukhari no. 5090 dan Muslim no. 1466)

  1. Mencintai tak harus memiliki

Jika kita mencintai kemudian orang yang kita cintai ternyata tak membalas cinta kita apakah kita tidak akan menikah karena hanya ingin mencintai dirinya? Sungguh tentu tidak bukan? Karena kita mencintai dan kemudian menikahi karena ingin MENJAGA KEHORMATAN kita, betul? Jika Allah menjauhkan seseorang yang kita cintai, itu berarti Allah sedang mendekatkan kita kepada seseorang yang pantas kita cintai menurut-Nya. Maka janganlah kita bersedih .

La Takhaf Wa La Tahzan. Innallaha Ma’ana “Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati. Sesungguhnya Allah ada bersama kita”

“Tiga golongan yang Allah pasti akan menolong mereka: budak yang hendak menebus dirinya, seorang yang menikah dengan tujuan menjaga kehormatanya dari perkara-perkara yang diharamkan, dan seorang yang berjihad di jalan Allah.” (HR. An-Nasa’i)

 Bagaimana jika ternyata wanita yang kita cintai meninggal apakah kita juga harus ikut meninggal bunuh diri seperti dalam kisah Romeo dan Juliet? Tentu tidak! Kita mencintai dengan cara yang Allah cinta juga. Bunuh diri bukankah sangat dilarang oleh agama? Tidak mungkin jika kita mencintai karena Allah tetapi kita sendiri melanggar ketentuan-ketentuan Allah.

Inilah doa Rosulullah saat ditinggal istrinya yang paling ia cintai untuk selamanya didunia ini; Khadijah.

“Ya Allah, berilah aku rezeki cinta Mu dan cinta orang yang bermanfaat buat ku cintanya di sisi Mu. Ya Allah segala yang Engkau rezekikan untukku di antara yang aku cintai, jadikanlah itu sebagai kekuatanku untuk mendapatkan yang Engkau cintai. Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan di antara sesuatu yang aku cintai, jadikan itu kebebasan untuku dalam segala hal yang Engkau cintai.” (HR. Al-Tirmidi)

Lihatlah dalam doa kalimat terakhir diatas yang berbunyi “Ya Allah, apa yang Engkau singkirkan di antara sesuatu yang aku cintai, jadikan itu kebebasan untukku dalam segala hal yang Engkau cintai”. Arti dari doa tersebut adalah apa yang kita cintai mudah-mudahan menjadi kekuatan kita untuk mencintai hal lain yang Allah cintai dan ketika sesuatu yang kita cintai ternyata diambil oleh Allah maka jadikan hal tersebut menjadi kebebasan kita untuk mencintai hal-hal (sesorang atau sesuatu) lain yang juga Allah cintai. Jika seseorang yang kita cintai diambil oleh Allah maka jadikan ini sebagai kebebasan kita untuk mencintai seseorang lain yang lebih sholeh atau shoehah.

  1. Mencintai karena Allah berarti menjalankan segala perintah-perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya.

1)     Tidak bersentuhan

Dari Ma’qil bin Yasar RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “ Seandainya kepala seseorang ditusuk dengan jarum besi itu masih lebih baik daripada menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” (HR Thabrani dalam Mu’jam Kabir). Dari Aisyah berkata: “Demi Allah, tangan Rasulullah tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali meskipun saat membaiat.” (HR. Bukhari 4891)

2)     Tidak berdua-duan

Barangsiapa yang bermain pada Allah dan hari akhir maka hendaknya tidak berkhalwat (berdua-duan) dengan perempuan bukan mahram karena pihak ketiga adalah setan. (HR. Ahmad)

3)     Tidak berzina (mendekati zina saja jangan)

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang jelek” (Q. S. Al Isra 32)

 

 

jika cintaku padamu karena nafsu,

maka campakkan aku dengan kata-kata terpahit  yang bisa kau ucapkan.

 

jika cintaku padamu menjauhkanku dari Allah,

maka hinakan aku dengan hinaan yang paling hina yang bisa kau lontarkan.

 

jika cintaku padamu , meninggalkan agamamu

maka tutuplah hatimu serapat mungkin.

 

 Namun.

 

Jika cintaku karena Allah,

Jika cintaku sebagai wujud pengabdianku pada Allah,

Jika cintaku untuk menjaga kehormatanku,

Jika cintaku karena ingin membawamu pada kedekatan dengan Allah,

Jika cintaku karena ingin menjadikan dirimu sebagai ibu bagi anak-anakku,

 

Jangan kau palingkan wajahmu,

Jangan kau tutupkan hatimu,

Jangan kau campakkan diriku,

Jangan kau sia-siakan aku,

Sesungguhnya Aku Mencintaimu Karena Allah.

 

Itulah beberapa hal yang mungkin perlu kita perhatikan jika kita meamang mencintai karena Allah. Karena Cinta bukan hanya sekedar kata, bukan hanya pertautan hati dan bukan hanya hasrat luapan jiwa (PADI). Kata Anis Matta Jika cinta kita karena Allah, maka cinta yang lain hanyalah bentuk pengejawantahan cinta kita kepada-Nya. mudah-mudahan yang sedikit ini bermanfaat khususnya bagi saya pribadi dan bagi teman-teman yang sudah mau berkenan membaca. Terakhir semoga kita mencintai karena Allah. Aamiin.

 

Barakallahufiikum,  Semoga bermanfaat. Banyak senyum dan cinta ^_^

Semarang, 8 Juli 2012

Wisma As-Sabab di keheningan sepertiga malam

03.00 WIB

                                                                                                                         

Mengeja C-I-N-T-A

Saat cinta itu terpandang dari balik bukit yang jauh maka kau tetap mengenalnya dan bergetarlah sudut-sudut hatimu. Saat ia datang melangkah mendekatimu maka kau mempersiapkan segalanya untuk menyambut yang kau cinta. Seperti cintaku padamu pun seperti itu, saat jiwaku tau kau telah datang mendekat maka aku mempersiapkan segalanya untuk menyambutmu. Itulah cinta, kau sambut dengan sebaik-baiknya sebelum ia datang kepadamu. Maka siapkan segala kesholehanmu untuk bisa bersamanya.

Cintaku padamu seperti sepasang merpati yang hidup penuh bahagia. Sejauh apapun aku terbang, aku akan berusaha kembali menemuimu. Saat aku jauh darimu itulah penderitaanku, dimana ujian keimanan menjadi taruhan. Di mana kemaksiataan menjadi perlawanan. Saat jiwaku bersamamu aku merasa tenang, aku merasa bahagia. Inilah waktu-waktu terbaik dalam hidupku; ialah kebersamaan bersamamu. Tapi, saat kau jauh dariku hidupku SUNGGUH kering tak berarti. Aku tak mendapatakan sentuhanmu, aku tak mendapatkan bimbinganmu. Ternyata aku begitu lemah tanpamu. Itulah cinta, keujian cinta datang saat kita jauh dari yang kita cinta dan keindahan cinta datang saat bersama dengan yang kita cinta.

Aku Mencintaimu karena Allah. Aku mencintaimu karena memang Tuhan menyuruhku agar mencintaimu. Jika tidak sungguh aku menjadi orang yang paling merugi di dunia ini. Bagaimana tidak? kau berbeda dengan yang lainya. Dalam kegelapan jiwa kaulah penerang dalam hidupku. Dalam kemiskinan amal kaulah pemerkaya amalku. Bahkan saat ku bertumpah dosa kaulah penunjuk ampunan, meskipun Tuhanlah yang Maha Pengampun. Namun kau tetaplah terletak di bukit tinggi di hati ini. Maka kesempurnaan cintamu tak ada yang sanggup aku balas semuanya. Hanya seutus tali ikhtiarku menjadi yang terbaik agar kau tak kecewa bertemu denganku.

Kau adalah perisai dalam hidupku. Tanpamu aku akan menjadi sia-sia. Maka izinkan aku mengeja arti cinta tentangmu. Yaitu mengeja arti cinta dalam keistimewaanmu.

CERITA TENTANGMU TAK AKAN PERNAH USAI HINGGA MENTARI PADAM. TAK AKAN PERNAH BOSAN KUCERITAKAN TENTANG KEISTIMEWAANMU. KAU ADALAH SEMPURNA BAGIKU.

INDAH PERMATA DI HAMPARAN LAUT DAN NAJMA DI LANGIT TAK AKAN BISA MENGALAHKAN KEINDAHANMU YANG BEGITU MULIA

NILAI DALAM DIRIMU ADALAH SAAT KAU MAU BERBAGI DENGAN SEMUA MAKHLUK-NYA TANPA TERKECUALI

TANPAMU AKU TAK MENDAPATKAN PERTOLONGAN MAAF DARI TUHAN-MU, MAKA TETAPLAH MENEMANIKU HINGGA AKU SIAP TERPANGGIL OLEH TUHANKU

AKHIR CERITA DI SURGA ADALAH IMPIANKU KARENAMU

Aku tak ingin cintaku padamu seperti perjuangan sebuah roda belakang yang mengejar roda di depanya. Ia tak pernah bisa menemuinya selambat ataupun secepat apapun perjuanganya. Cintaku padamu adalah seperti pagi dan embun. Dimana embun selalu menemani pagi walaupun hanya sesaat tapi ku yakin embun selalu datang menemani pagi, ia tak pernah berdusta sedikitpun.

Selamat datang yang tercinta, Ahlan Wa Sahlan yang kucinta; Marhaban Ya Ramadhan. Semoga aku bisa memelukmu erat dan melepaskan segala kelelahan hati dan kesalahan jiwa.

Umi dan Abiku Jadi

(Klik tanda play di atas)

Hampir saja Umi tak dicintai Abiku

Andai dulu Umi tak memakai jilbabnya

Hampir saja Abi tak terpikat Umiku

Kalau saja dulu Umi tak baik akhlaknya

Umi dan Abiku berdua saling cinta

Mengajarkan aku baca al-Qur`an mulia

Ku s’makin bersyukur kar’na Umi dan Abi

Menjanjikan akan memberiku adik baru

Reff:

Saat Umi dan Abi berdua saling memandang

Dapat kubaca jelas ada rona bahagia

Kupandang satu-satu wajah Umi dan Abi

Terpancar cahaya Surga dari kedua matanya